| Selasa, 27 Desember 2005 | INTERNASIONAL |
Rice Makin Bersinar saat Citra Bush SuramWASHINGTON - Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice (51) telah menjadi menteri yang paling populer dalam pemerintahan Presiden George W Bush. Dia juga kandidat kuat untuk menggantikan Bush di Gedung Putih. Terlebih lagi, rakyat Amerika kini semakin kehilangan kepercayaan pada Presiden Bush. Saat ini, Rice telah memasuki tahun kedua sebagai diplomat senior dan juru bicara kebijakan luar negeri AS. Mustahil pula bagi untuk melepaskan citranya sebagai ''dewi perang'' kubu Bush. Nama Rice sering disebut-sebut oleh stafnya di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih. Di lembaga itulah, Rice menjadi anggota inti dewan perang periode pertama pemerintahan Bush. Rice dengan lantang membela perang melawan terorisme pasca-11 September 2001. Dia juga mendukung penambahan kekuasaan presiden untuk menyukseskan program perang melawan terorisme. Dia bahkan bersikap lebih optimistis ketimbang Bush mengenai kemajuan perang Irak dan masa depan negara Teluk Persia tersebut. Namun, jarang ada komentar mengenai posisi Rice sebagai arsitek yang merumuskan sebagian langkah pemerintahan Bush. Kecemerlangan karir politik Rice sebenarnya merupakan perpaduan dari citranya sebagai wanita cerdas, keberuntungan, dan sikap yang menjaga jarak dari kemelut Gedung Putih. Ketika tingkat popularitas Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney terus melorot ke titik terendah dalam sejarah kepresidenan AS, citra Rice tak ikut suram. Lebih Pragmatis Kurt Campbell, direktur Program Keamanan Internasional di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memuji langkah-langkah diplomasi Rice. Dia menilai, pendekatan diplomatik Rice lebih pragmatis ketimbang penasihat-penasihat lain dalam pemerintahan Bush. ''Dia tampaknya berhasil lolos dari kontroversi mengenai kekeliruan laporan intelijen AS dan taktik agresif Amerika dalam memburuk teroris,'' kata Campbell. ''Dia terkadang tampak dekat dengan Presiden Bush. Namun, dia tidak pernah dikaitkan dengan cacat pemerintahan itu,'' tambahnya. Walaupun isu perang Irak, terorisme, dan masalah lainnya menjadi perdebatan panas dalam sidang Senat Januari lalu, sebagian besar rakyat Amerika tampaknya tidak mengaitkan Rice dengan segala persoalan tersebut. Survei Pew Research Oktober lalu menunjukkan bahwa 60 persen responden sangat mendukung pandangan Rice. Sementara itu, 25 persen responden sangat menentang pendapat anggota lainnya dalam pemerintahan Bush. Jajak pendapat AP dan Ipsos bulan ini menunjukkan, hanya 42 persen responden mengatakan keputusan menginvasi Irak itu tepat. Namun mereka mendukung kebijakan bahwa tentara AS tetap berada di Irak.(ap-ben-25) |