logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 EKONOMI
Line

Penahanan Distribusi Gula Dikhawatirkan Pengaruhi Stok

SEMARANG- Adanya penahanan pendistribusian gula impor asal China yang baru saja dilakukan pembongkaran di Pelabuhan Tanjung Emas pekan lalu dikhawatirkan akan mempengaruhi stok gula di pasar. Pasalnya stok gula saat ini mulai menipis.

Penahanan pendistribusian gula itu menunggu kepastian pungutan Rp 50 per kilogram yang akhir-akhir ini memicu kontroversi. Sehingga dikhawatirkan harga gula malah akan melonjak melebihi harga yang ditetapkan, yakni sebesar Rp 5.500, akibat kelangkaan stok di pasar.

Ketua Asosiasi Distributor Gula Indonesia (ADGI) Jateng Bambang Husodo mengatakan pendistribusian gula terancam macet.

Hal ini akan terjadi bila Disperindag menahan pendistribusian terlalu lama. Oleh karenanya ia meminta secepatnya dilakukan pembahasan untuk penyelesaian kontroversi pungutan itu.

Menurutnya kalau penyelesaiannya terlalu lama maka penahanan pendistribusiannya juga akan lama. Hingga akhirnya harga gula terus melambung yang sudah tentu merugikan konsumen.

Ia mengatakan tidak masalah bila pungutan sebesar Rp 50 dalam komponen harga gula dihapus. Ia menyerahkan keputusan itu sepenuhnya kepada pemerintah.

''Adanya pungutan ataupun tidak, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Yang penting bagaimana caranya agar ketersediaan stok gula di pasar tetap aman. Saya hanya berharap masih diberi jatah ikut mendistribusikan gula dengan harga yang pantas,'' katanya Senin, (26/12).

Lebih lanjut ia mengaku menyayangkan pihak yang mempermasalahkan pungutan Rp 50 tersebut. Menurutnya, pihak tersebut tidak mengetahui persis bisnis gula. Menurutnya keperuntukan pungutan Rp 50 dalam biaya komponen harga gula sudah jelas, yakni untuk pengembangan pabrik gula dan memberdayakan petani tebu untuk menggunakan peralatan modern.

Ia menambahkan yang terpenting dalam pengawasan distribusi gula saat ini adalah banyaknya gula rafinasi asal Jakarta dan Lampung yang beredar di pasar Jateng.

Menurutnya jumlah stok gula rafinasi yang diperuntukkan untuk konsumen industri sama dengan stok gula yang ada. Adanya gula inilah yang bisa menyebabkan harga gula anjlok karena bisa diperoleh dengan harga lebih murah.

''Selain itu mahalnya harga pupuk yang diperoleh petani tebu menyebabkan ongkos produksi menjadi mahal. Tetapi nampaknya hal ini kurang menjadi perhatian,'' katanya.

Stok Aman

Sementara itu Kepala Disperindag Jateng Banudojo Hastjarjo menjamin ketersediaan stok gula di pasar aman. Dilakukannya penahanan pendistribusian gula impor yang baru datang itu tidak akan menyebabkan kelangkaan. Menurutnya stok yang ada di pasaran saat ini masih mencukupi. ''Indikasinya bisa kita lihat pada harga saat ini yang tidak melebihi Rp 5.500. Kalau stok langka maka harganya akan naik,'' katanya.

Ia juga menambahkan gula impor yang baru datang itu saat ini masih dalam proses di bea cukai. Ia berharap keberadaan pungutan Rp 50 bisa diselesaikan pada pertemuan antar-stakeholders yang digelar Rabu besok (28/12) di kantor Disperindag.

''Dalam pertemuan itu Disperindag hanya sebagai penengah. Kami juga tidak ingin ada pihak-pihak yang dirugikan, baik produsen maupun konsumen,'' katanya. (mhr-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA