logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 EKONOMI
Line

Pedagang Luar Jateng Borong Beras

SEMARANG- Selama seminggu terakhir, harga beras di Pasar Dargo mengalami kenaikan rata-rata Rp 200-300 per kilogramnya. Kenaikan tersebut dikare-nakan para petani kesulitan menjemur gabahnya akibat minimnya sinar matahari yang mengakibatkan produksi beras menjadi menurun.

Selain itu, menurut salah seorang pedagang beras di Pasar Dargo, Kastawar, kenaikan juga diakibatkan banyaknya pedagang beras dari Jawa Barat, yakni Cirebon dan Kerawang yang membeli beras di daerah Jateng. "Para pedagang tersebut langsung membeli dari petani di daerah Demak maupun Grobogan kemudian mereka menjualnya ke Jakarta dengan harga yang lebih mahal," paparnya saat ditemui Suara Merdeka, kemarin.

Namun demikian, Kastawar menambahkan, hal itu tidak terlalu mengurangi stok beras di Pasar Dargo meskipun pasokan beras agak tersendat. Kenaikan tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama karena panen raya akan segera tiba pada sekitar bulan Februari mendatang.

Menurut Kastawar, setelah panen raya tiba di berbagai daerah yang selama ini menyuplai stok beras ke pasar induk beras itu, yakni dari Demak, Salatiga, Weleri, maupun Kendal, diharapkan harga beras akan berangsur normal kembali.

Saat ini di tingkat distributor, beras jenis IR 64 per kilogramnya dihargai sebesar Rp 3.600, sedangkan yang super Rp. 3.700. Begitu juga dengan jenis membramo, harganya antara Rp 3.800-Rp 3.900, menthik wangi Rp 3.900-4.000, dan cisadane Rp 3.600-Rp 3.700. Sementara beras ketan justru harganya turun menjadi Rp 3.200 per kilogramnya.

Kurangnya sinar matahari menyebabkan kualitas beras menjadi kurang bagus karena masih agak basah. Apabila dalam waktu kurang lebih dua minggu beras itu belum laku, maka akan menjadi lengket. Karena itulah para pedagang umumnya tidak menyetok secara berlebihan beras mereka karena takut rusak.

Saat ini, stok beras di Pasar Dargo berkisar 50 ton dengan penjualan kurang lebih 25 ton per harinya. Penjualan beras tersebut diperkirakan akan meningkat hingga 40 ton per harinya pada awal Januari mendatang. "Selama bertahun-tahun berjualan disini, kalau memasuki akhir tahun penjualan memang relatif menurun, namun akan naik lagi pada awal tahun. Kemungkinan karena tutup tahun, jadi pembelian beras hanya secukupnya," ucapnya.

Menurut Kastawar, hingga sekarang di Semarang belum ada beras impor yang masuk karena stok yang ada dari beras lokal masih cukup. (sjs-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA