| Selasa, 27 Desember 2005 | BUDAYA |
Malam Ini Parade Karya 18 PenyairSOLO - Provinsi Jateng telah melahirkan banyak penyair dan sastrawan. Mereka tersebar di hampir semua wilayah eks-karesidenan. Namun, jika Wijang J Riyanto dan kawan-kawan menerbitkan buku ''Peta Kepenyairan: 18 Penyair Jawa Tengah - Proses Kreatif dan Karya'', bukan berarti jumlah penyair di provinsi ini hanya 18 orang. Jumlah sesungguhnya jauh lebih banyak. Indikator yang menunjukkan hal itu antara lain melalui rubrik sastra di media massa, forum-forum silaturahmi budaya, dan lahirnya berbagai komunitas kepenulisan. Bahkan, dalam dua dekade terakhir ini, pernah disinyalir adanya ''inflasi'' kepenyairan di Jateng meskipun tolok ukur yang digunakan tidak pernah jelas. ''Adalah suatu kerugian besar apabila keberadaan para penyair, proses kreatif dan karyanya tersebut tidak terdokumentasi dan terinventarisasi dengan baik. Sebab, sekecil apapun peranan mereka cukup memberikan warna kehidupan berkesenian dan berkebudayaan bagi masyarakat di wilayahnya,'' kata Wijang, kemarin, mengenai latar belakang penulisan buku Peta Kepepenyairan. Menurut dia, upaya dokumentasi dan inventarisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui penerbitan buku tentang peta kepenyairan, pergelaran parade karya, dan membicarakannya dalam forum diskusi mengenai karya dan proses kreatif mereka. Semua kegiatan itu diharapkan memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat umum, khususnya masyarakat sastra, dan juga agar Jateng tidak kehilangan sejarah literer dan puitika dari para penyairnya. Penerbitan buku itu akan ditandai dengan acara Parade Karya 18 Penyair Jateng dan Diskusi Peta Kepenyairan. Acara digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, malam ini mulai pukul 19.30. Parade karya akan menampilkan puisi-puisi karya Jumari Hs, Rohadi Noor (Kudus), Hidayat Jasin (Jepara), Badruddin Emce (Cilacap), Faisal Kamandobat (Majenang), Teguh Trianton (Purbalingga), Suroto S. Toto, Dulrokhim (Purworejo), ML Budi Agung (Temanggung), Apito Lahire, Al Badurasyikin, M. Enthieh Mudakir (Tegal), Timur Sinar Suprabana, Handry TM, Heru Mugiarso (Semarang), Wijang Wharek AM (Klaten), Giyato (Karanganyar), dan Gunawan Tri Atmodjo (Solo). Rabu (28/12), mulai pukul 09.00 acara dilanjutkan dengan diskusi ''Peta Kepenyairan Jawa Tengah'' menampilkan narasumber Mukti Sutarman Espe (eks Karesidenan Pati), Haryono Soekiran (Banyumas), Roso Titie Sarkoro (Kedu), Nurhidayat Poso (Pekalongan), Triyanto Triwikromo (Semarang), dan Yant Mujiyanto (Surakarta), dengan moderator Sosiawan Leak. (B7-43) |