| Kamis, 22 Desember 2005 | PANTURA |
Lagi, Satu Korban MeninggalLima Kecamatan Endemis DBBREBES - Rina (2), warga Desa Tanjungsari, Bulakamba, Brebes, meninggal karena terserang demam berdarah dengue (DBD), Selasa (20/12). Sebelumnya, anak dari pasangan suami istri Jari (34) dan Wakini (30) itu sempat menjalani perawatan intensif selama beberapa hari di RSUD Brebes. Namun karena kondisinya sudah parah, akhirnya Rina meninggal dunia. Menurut penuturan Wakini, semula sakit anaknya diduga terkena penyakit tipus. Hal itu ditandai oleh panas tinggi dan muntah-muntah. Ketika dibawa ke rumah sakit dan didiagnosa oleh dokter setempat, ternyata anaknya terserang DBD. "Menurut dokter, anak saya terserang DBD dan kondisinya sudah parah," katanya. Dia mengungkapkan, biasanya apabila sakit dan diberi obat, anaknya langsung sembuh. Namun hingga tiga hari, panas anaknya tidak kunjung turun. Bahkan sempat beberapa kali mengalami kejang-kejang. Karena itu, dia memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Sementara itu Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Dinkes, Awaludin, ketika dimintai konfirmasi mengaku belum menerima laporan adanya tambahan korban meninggal akibat DBD tersebut. "Saya belum menerima laporan dari pihak rumah sakit maupun petugas yang melakukan pemantuan," katanya. Berdasarkan data di Dinkes, dalam kurun tiga bulan terakhir jumlah penderita DBD di Brebes melonjak. Sejak awal Oktober hingga 17 Desember 2005, tercatat sebanyak 89 penderita DBD yang dirawat di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, lima orang meninggal dunia. Korban meninggal kebanyakan anak-anak di bawah usia 10 tahun. Musim Penghujan Menurut Awaludin, peningkatan jumlah penderita DBD disebabkan karena saat ini mulai memasuki musim penghujan. Pada musim tersebut, pertumbuhan nyamuk meningkat pesat sehingga risiko penyebarannya juga tinggi. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk menciptakan pola hidup sehat masih kurang. Masyarakat belum sepenuhnya mengikuti anjuran untuk melakukan 3 M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur tempat-tempat yang potensial dijadikan sarang nyamuk. Dia mengatakan, untuk menanggulangi merebaknya wabah DBD, pihaknya menerjunkan 27 juru pemantau jentik (jumantik). Para petugas tersebut diterjunkan di seluruh kecamatan. Dari 17 kecamatan yang ada, lima di antaranya merupakan daerah endemis DBD, yaitu Ketanggungan, Larangan, Bulakamba, Wanasari, dan Kecamatan Brebes. Dia menjelaskan, sebagian besar korban DBD yang meninggal adalah akibat terlambat dibawa ke rumah sakit. Mereka biasanya sudah dalam kondisi kritis, bahkan tidak jarang mengalami pendarahan. Menurutnya, hal itu disebabkan karena kurangnya kesadaran dari orang tua mengenai pentingnya kesehatan anak. Selain itu, juga akibat kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu, sehingga takut membawa anak-anak mereka ke rumah sakit. Padahal, bagi penderita yang miskin, mereka dapat berobat secara gratis dengan syarat memiliki kartu miskin.(H17-61a) |