| Kamis, 22 Desember 2005 | PANTURA |
Nelayan Asemdoyong TerpurukPEMALANG - Kendati pemberlakuan kenaikan harga BBM berlangsung beberapa bulan lalu, dampak kebijakan pemerintah pusat itu masih terasa bagi nelayan di beberapa desa Kecamatan Taman, Pemalang, terutama para nelayan kecil. Mereka belum dapat menyesuaikan dengan kenaikan harga solar yang kini terasa mencekik itu. Belum lagi harga kebutuhan lainnya juga ikut merambat naik. Para nelayan kecil di desa itu mengaku penghasilannya minim dibandingkan situasi sebelumnya. Bahkan, ada yang hasil dari lelang ikan sangat sedikit, sampai sulit dibagi antaranak buah kapal (ABK). Hasil lelang terpaksa hanya dibelikan makanan dan dibagi rata untuk dibawa pulang ke rumah. Seperti yang diungkapkan Katu (42) warga Desa Kabunan, Kecamatan Taman, setiap melaut dia membutuhkan dana untuk membeli solar Rp 80.000 dan biaya perbekalan makanan Rp 40.000. Dia mencari ikan membutuhkan waktu selama satu hari. "Namun, hasil dari tangkapan ikan selama satu hari hanya sisa sedikit setelah dipotong perbekalan," ujarnya sedih. Dia mengaku, dari modal Rp 120.000 hanya bisa mendapatkan hasil Rp 180.000. Setelah dipotong untuk perbekalan masih sisa Rp 60.000. Penghasilan bersih sebesar itu dibagi untuk juragan yang punya kapal Rp 20.000, sehingga tinggal Rp 40.000 dan dibagi lagi untuk 15 ABK. "Jadi per orang hanya mendapat antara Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Malah kalau sedang apes, sekali penghasilan yang diperoleh tidak cukup dibagi rata. Akhirnya dibelikan molen (kue terigu berisi pisang-Red). Molen lalu dibagi rata untuk oleh-oleh pulang ke rumah." Hal senada diungkapkan Suwarno (47) warga Danasari. Dia bekerja sebagai juru mudi perahu jenis cantrang. Bapak empat anak itu menuturkan, jika melaut mengabiskan waktu dua hari dengan jumlah ABK tiga orang. Sementara biaya perbekalan melaut Rp 350.000 untuk beli es batu, solar, dan makanan. Namun penghasilan dari lelang hanya Rp 425.000. (sf-61d) |