| Kamis, 22 Desember 2005 | MURIA |
Menjadi Ibu di Era GlobalOleh: Mamik Indaryani MSTIDAK ada yang memungkiri di hari ibu yang ke-77 tahun 2005 ini telah banyak yang dilakukan oleh kaum ibu di berbagai ranah kehidupan, baik sebagai ibu maupun melalui profesi dan pekerjaan yang menjadi pilihannya. Tetapi masih banyak yang belum mengetahui latar belakang kegigihan para ibu yang melahirkan tanggal 22 Desember ini sebagai hari ibu. Lalu apa kaitannya dengan mother's day yang diperingati negara maju, dan apa pula kaitannya dengan banyak kegiatan seperti PKK dan pengarusutamaan gender? Yang terakhir ini justru menjadi indikator penting bagi keberhasilan pembangunan manusia, selain indikator yang sebelumnya yaitu: angka kematian bayi waktu lahir, melek huruf, dan pendapatan perkapita. Pengarusutamaan gender akan melahirkan konsep Gender And Development (GAD) dan Gender Empowernment Measure (GEM). Jika konsep GAD mengukur partisipasi dan kontribusi perempuan dan laki-laki dalam dalam pembangunan maka konsep GEM mengukur tingkat pemberdayaan perempuan dalam suatu daerah dibandingkan dengan peran laki-laki dalam berbagai aspek pembangunan. Implikasi ukuran atau indikator ini adalah apakah suatu daerah telah dapat menyusun anggaran pendapatan dan belanjanya dengan perspektif gender. Dari sini akan tampak setiap perencana mempunyai kepekaan dan sensitifitas gender sehingga mampu membuat kebijakan dan program yang tidak bias gender. Gelisah Media Elektronik Hasil kemajuan dan wawasan para ibu yang diperoleh lewat berbagai kegiatan yang diikutinya tidak serta merta dapat dikomunikasikan kepada suami bahkan diimplementasikan untuk mendidik anak-anaknya. Justru kadang ibu dan ayah tidak mampu dan seolah kehilangan kewibawaan di depan anak-anaknya. Sehingga dengan menyediakan berbagai fasilitas dan kebutuhan anak-anaknya menjadi prioritas yang dianggap telah cukup dan menjadi bagian terbesar tugas orang tua. Apa yang diperoleh anak-anak baik pengetahuan, informasi dari berbagai sumber lebih banyak dan lebih kuat, dan lingkungan di mana anak menghabiskan waktu terbanyaknya di luar rumah-memberi pengaruh lebih besar dan lebih kuat, maka nilai-nilai yang telah berusaha ditanamkan kepada anak-anak dianggap tidak sesuai dengan paradigma anak dan bahkan dianggap ketinggalan zaman. Perbedaan cara pandang (paradigma) yang dimiliki anak dengan ibu, menyebabkan ibu selalu merasa kurang pintar dan ketinggalan dari anak-anaknya. Ditambah lagi paradigma ayah yang belum berubah, di mana pendidikan dan pengasuhan anak adalah tugas ibu sehingga ibu harus berjuang sendirian dan akibatnya beban ganda semakin berat. Pengalaman ibu yang diterima dari orang tuanya yang menjadikan dirinya dapat bertahan sampai saat ini tidak lagi dapat diajarkan. Sekarang banyak sarana dan model serta nilai baru yang tidak dimiliki ibu, tetapi justru diyakini oleh anak sebagai sesuatu kebenaran yang lebih baik dari kebenaran yang diajarkan ibu yang bersumber dari ajaran yang takut akan Tuhan. Bagaimana dengan sisi lain bagian dari kebahagiaan anak sebagai anggota keluarga? Apakah masih ada kesempatan ibu atau ayah untuk bercengkerama dan mendampingi anak-anak balita dan remajanya menyaksikan acara televisi kesukaan dan menjadi sarana hiburan satu-satunya di rumah, dan apakah pernah bertanya apa yang dilakukan ketika anak-anak sudah pandai mengakses internet? Apakah sudah disadari apa yang terjadi dengan kesukaan duduk diam di depan televisi berjam-jam apalagi menyaksikan tayangan yang bukan porsinya. Bahkan sinetron kesukaan yang tak pernah dilewatkan yang dianggap dunianya karena para artis didandani memakai seragam yang sama dengan dirinya? Atau cerita film kartun yang disarankan ibu untuk dilihat, rutin dan sesuai dengan jadwal yang ada, daripada anak-anak bermain di luar bersama teman-temannya? Tayangan media elektronik dan audiovisual khususnya sangat efektif untuk menyampaikan pesan. Bagaimana kalau pesan yang disampaikan adalah pengkhianatan, perkosaan, perselingkuhan, konflik karena saling memperebutkan pacar, berani kepada orang tua karena dianggap tidak becus untuk mengiyakan seluruh permintaan anak, perampokan, menikmati kemewahan tanpa kerja, mengandalkan kekuatan setan, menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan dan sebagainya? Apakah ayah dan ibu menyadari dan mengetahui cerita yang ada dikaset video games, bahkan play station? Apakah juga mengetahui cerita kartun yang membuat anak-anak jadi betah di rumah? Bagaimana jika ternyata cerita, games, dan permainan-permainan yang dimiliki dan menjadi simbul modernitas tersebut tidak dapat menumbuhkan sifat-sifat solidaritas, kerukunan, simpati, kerja sama, saling menghormati, sportivitas, kasih sayang, hormat kepada orang tua, motivasi dan semangat juang untuk meraih masa depan? Atau ironisnya banyak ibu yang sedih ketika anak-anak memasuki liburan sekolah karena harus memberikan pengeluaran ekstra untuk bermain game di play station? Harus Rela Berubah Seiring dengan perubahan yang terjadi dalam era millenium, era global di mana dunia seolah tanpa batas, maka kita (ibu) juga harus berubah. Mengapa berubah? Apanya yang berubah dan bagaimana melakukannya? Tidak ada satupun di antara kita yang tidak terkena dampaknya. Masalahnya kita menyadari dan merasakan perubahan itu atau tidak. Ataukah kita selalu menganggap kita tidak berkepentingan dengan perubahan yang sedang terjadi. Untuk tahu butuh suatu perubahan, kita harus dapat mengenali kelebihan dan kekurangan kita ketika dihadapkan pada masalah keseharian baik di rumah tangga maupun di tempat kerja. Saat ini hampir semua wanita/perempuan (ibu) telah tergabung dan menjadi bagian/anggota organisasi formal maupun informal. Banyak juga perempuan (ibu) yang mempunyai jabatan tinggi dan memiliki kewenangan sebagai pengambil kebijakan publik. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk dapat membuat kebijakan yang perspektif kebutuhan ibu, bukan hanya kebutuhan laki-laki/bapak alias membuat kebijakan yang berperspektif gender. Sehingga kepercayaan yang diberikan sebagai amanat dapat dilaksanakan dengan dan melalui upaya-upaya yang dapat memotong lingkaran yang tidak berujung pangkal, sehingga dapat mempercepat upaya peningkatan pembangunan sumberdaya manusia dengan mempergunakan dan mengintegrasikan dalam program yang disusun. Pepatah bahwa wanita adalah tiang negara masih tetap relevan sampai saat ini, apalagi dengan kondisi dan empirik yang menunjukkan banyaknya PHK di kalangan laki-laki yang menyebabkan stres dan gangguan jiwa. Kekuatan dan kelenturan mental dan jiwa ibu-ibu untuk menghadapi hal-hal semacam ini menjadi sangat diperlukan demi menjaga keutuhan rumah tangga dan beban mulia menjadi rowang kang sembada bagi laki-laki terlebih bagi suami.(17) -Penulis adalah pengajar di UMK Kudus dan Ketua Litbang JPPA Kudus |