| Kamis, 22 Desember 2005 | MURIA |
Suka Duka Nelayan di Awal Musim Barat (2-Habis)Di Pantai, Nelayan Panen KerangADA duka ada suka. Di saat kegiatan nelayan terhenti akibat cuaca buruk, dan tatkala para penghuni rumah di kawasan tanah sepadan pantai berkerut keningnya akibat ancaman ombak dan abrasi, justru sebagian masyarakat nelayan yang tidak menangkap ikan, kebanjiran sumber penghasilan. Mereka adalah para pencari kerang laut. Ya, puluhan nelayan dan anak-anak mereka terjun di sepanjang pantai kawasan kota. Mereka tak bisa berjalan tegap, karena kaos-kaos mereka terisi kerang laut. Mereka juga lebih banyak menunduk karena kepis yang digantung di leher-leher mereka juga penuh dengan kerang. Raut wajah mereka tak terlihat pucat isarat sedih, melainkan sunggingan senyum dan penuh nuansa canda tawa. Riuh benar suasana di Pantai Desa Ujungbatu, Kecamatan Jepara pada Senin (19/12) pagi. Lihatlah cara mereka mencari kerang. Sambil berdiri atau jongkok, dari kejauhan mereka tampak sedang bergoyang dan terkesan genit. Tapi tidak, itulah cara mereka berburu kerang yang banyak ditemukan di saat musim barat tiba, musim di mana ombak besar datang bergulung dari laut lepas menuju pantai akibat tiupan angin. Menurut cerita para pemburu, kerang-kerang itu diempaskan gelombang laut dari titik yang agak jauh dari garis pantai menuju daerah pinggir pantai. Di Jepara, musim barat biasa terjadi pada Desember hingga akhir Maret. Mereka menggunakan kedua telapak kaki mereka untuk nggrayangi kerang-kerang yang menyembul di dasar pantai. Sesekali telapak tangan mereka juga berfungsi sama dengan telapak kakinya. Sekali goyang bisa dua sampai empat biji kerang. Mereka masukkan kerang itu ke kaos-kaos atau kepis mereka. Kerang paruk, demikian mereka menyebut kerang berwarna hijau kemerah-merahan dengan kulit halus itu. Karena rasanya yang relatif lebih lezat, harganya juga lumayan mahal dibanding kerang biasa dengan kulit berkerut. Karnanto (38), warga Desa Ujungbatu RT 4 /RW 4 bersama dua anaknya, mendapatkan kurang lebih 8 kg dalam waktu kurang dari lima jam masa perburuan. Selain untuk lauk di rumah sendiri, Karnanto juga menjualnya di pasar. Cukup menggembirakan hasil penjualannya, karena tiap satu taker seharga Rp 20.000. Satu taker berbobot lebih dari 2 kg. Karnanto dan anak-anaknya menggunakan cara manual dalam perburuan. Jika malam hari, tuturnya, hasilnya lebih besar. Terutama para pemburu dari kawasam Kecamatan Kedung. Mereka mennggunakan jaring serok. ''Dalam waktu yang sama, mereka bisa mendapatkan kerang dalam jumlah empat kali lipatnya,'' ujarnya. Untuk mengisi waktu di saat tak berangkat melaut, ia memang mencari kerang-kerang itu. Mulai terbit matahari hingga pukul 11.00. ''Kalau sore air pasang dan ombak lebih besar, sehingga saya tidak melakukan perburuan. Kecuali mereka yang memang ahlinya,'' imbuhnya. (Muhammadun Sanomae-15) |