| Kamis, 22 Desember 2005 | MURIA |
Kapal Angkutan Kayu Terdampar
JEPARA - Badai besar di perairan Jepara menghantam Kapal Layar Motor (KLM) Citra Mandiri, Selasa (20/12) sore. Akibatnya, kapal bernomor selar GT 272NO1488 DA dengan jumlah awak 15 orang itu nyaris tenggelam, sebelum akhirnya terdampar di perairan Pantai Bandengan Jepara. Jajaran Polres Jepara hingga Rabu (21/12) siang kemarin masih menempatkan puluhan petugas di kawasan pantai tersebut untuk mencegah aksi penjarahan kayu yang dimuat KLM tersebut. Berdasarkan laporan yang masuk ke Kantor Pelabuhan Jepara kemarin, seluruh awak kapal berikut nakhodanya dalam kondisi selamat. Para awak kapal sebagian dari Flores, Banyumas, Sampit, dan berbagai daerah lain. Helen Tony (35), navigator kapal melaporkan kejadian tersebut dan diterima oleh Miswan dari Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP) Kantor Pelabuhan Jepara. Kepada Suara Merdeka, Helen yang mewakili nakhoda kapal -Herman Sarmin- mengatakan, kapal tersebut berangkat dari Sampit, Kalimantan Tengah, dengan muatan penuh kayu matang bertujuan Jakarta. "Dari Sampit, kayu tersebut akan kami angkut ke PT Raja Abadi Jakarta," kata Helen yang asli Banyumas Jateng itu. Dijelaskan, sejak pagi memasuki perairan Jepara, nakhoda dan seluruh awak sadar bahwa cuaca sangat buruk. Angin kencang dan hujan deras menyebabkan ombak di sekitar 60 mil laut cukup tinggi. "Tinggi ombak kira-kira tiga meter," ujarnya. Menyadari hal itu, nakhoda mencoba membawa kapal berukuran panjang lebih kurang 25 meter dan lebar 10 meter itu ke jalur pinggir. Pada Selasa (20/12) sekitar pukul 14:30, kapal melintas di perairan delapan mil dari garis pantai objek wisata Pantai Bandengan, Jepara. Badai makin kencang, dan ombak pun makin ganas. Tak pelak, ombak besar yang menghantam bodi kapal menyebabkan air laut memenuhi setengah dek dalam kapal. Seketika itu pula, mesin kapal berdaya 150 PK itu langsung mati. Ada tujuh pompa air di kapal itu, namun semuanya macet, dan yang berfungsi hanya satu unit. "Usaha kami tak bisa maksimal," lanjutnya. Seluruh awak kapal mencoba mencari selamat, agar kapal tidak tenggelam, dengan cara mengurangi muatan kayu. "Kami menurunkan kayu sebanyak 200 m3 ke laut untuk mengurangi beban," tuturnya. Kapal yang hampir tenggelam dan mesin dalam kondisi mati itu, terbawa angin dan akhirnya terdampar di perairan Pantai Bandengan. "Sebelum polisi datang ke lokasi, saat itu ada beberapa orang yang menjarah kayu," katanya. Berdasarkan pemantauan Suara Merdeka, di Pantai Bandengan puluhan polisi masih mengamankan kayu-kayu jenis meranti dan bengkire yang mengapung dan dikumpulkan warga di pinggir pantai. Kapolres Jepara, AKBP Drs Fakhrizal, melalui Kasat Reskrim, Iptu Indra Gunawan, mengatakan, begitu mendapatkan laporan, petugas langsung dikerahkan ke lokasi terdamparnya kapal itu. "Kami terjun bersama polisi air (Polair) untuk langkah penyelamatan dan pengamanan," katanya. Sampai kemarin, kata Indra, awak kapal belum melaporkan kerugian atau seberapa banyak kayu yang hilang akibat terbawa air laut atau diduga telah dijarah. "Kami masih menunggu laporan lebih terperinci. Jika memang terbukti ada penjarahan dan ada saksi serta bukti-buktinya, kami akan bertindak," katanya. (H15-15a) |