| Kamis, 22 Desember 2005 | MURIA |
Tanaman Padi di Baturejo250 Ha Habis Dimakan TikusPATI - Lebih dari 250 hektare tanaman padi milik petani di Desa Baturejo dan Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Pati, kini rusak parah akibat dimakan tikus. Padahal, kata beberapa petani di desa itu kemarin, tanaman padi yang lokasinya berdekatan, yakni di Desa Kasiyan, Cengkalsewu dan Wotan Sukolilo, saat ini masih relatif aman dari gangguan. Mereka tak bisa berpikir lebih jauh karena serangan selalu terjadi setiap musim tanam (MT) I. Upaya pemberantasan melalui cara geropyokan dan menggunakan setrum listrik yang selama ini mereka gunakan ternyata belum mampu mengatasi permasalahan itu. Beberapa tahun terakhir ini hama tikus dianggap petani sebagai penyebab utama gagal panen MT I. Di samping itu, pada MT II tanaman mereka juga terancam hama wereng yang biasanya juga merajalela. Karena itu, kegiatan pertanian masyarakat petani setiap tahun selalu dihadapkan pada kesulitan pemberantasan serangan dua hama tersebut. "Jika sudah demikian, berbagai langkah yang kami lakukan hanya membuang-buang tenaga dan biaya saja," ujar Jariyo (55). Hal itu juga dibenarkan petani lainnya, Suripan. Dia menyatakan tak habis mengerti, mengapa serangan hama, terutama tikus ini, selalu terulang setiap musim tanam padi. Anehnya, serangan hama tersebut selalu terulang di Baturejo. Kemudian merembet ke desa sekitar seperti Gadudero dan Wotan sehingga upaya pemberantasan yang terus-menerus dilakukan dianggapnya tak ada manfaatnya. Akan tetapi, yang membuat dia tak habis pikir, meski sudah banyak yang digeropyok, termasuk menggunakan bantuan anjing, tikus-tikus itu tidak pernah habis. Padahal berbagai upaya untuk meminimalkan serangan hama itu sudah dilakukan, namun tak kunjung berhasil. Dalam kondisi seperti itu, petani mengaku mengalami kerugian cukup besar. Sebab, mereka sudah mengeluarkan biaya untuk tenaga, membeli benih dan pupuk, hingga bahan bakar untuk mendapatkan air. Serangan hama tikus itu kemungkinan masih bisa diatasi bila bekas rawa yang semula sempat menjadi areal pertanian dan kini kembali menjadi rawa itu ditata lagi. Maksudnya, rawa yang banyak ditumbuhi tanaman perdu dan tumbuhan air itu harus diupayakan kembali menjadi areal pertanian. "Rawa tersebut menjadi tempat berkembang biak ribuan tikus, terutama di lahan yang tidak tergenang air." (ad-54n) |