logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Desember 2005 KEDU & DIY
Line

Ruwat Bumi Sambut Satrio Piningit

Sejumlah aliran kebatinan Yogyakarta yang tergabung dalam Paguyuban Ngesti Tunggal, Senin (19/12) malam menggelar upacara ritual di Alun-alun Utara, Yogyakarta. Upacara ritual ini, menyita perhatian masyarakat yang kebetulan sedang melintas di sekitar lokasi.

Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara tapa bisu sambil jalan kaki mubeng beteng (keliling beteng Keraton Yogyakarta). Upacara yang diberi nama ruwat bumi para leluhur dan pimpinan Nusantara untuk menyongsong Satrio Pini-ngit Sang Mustikaningjati.

Upacara ritual yang dimulai pukul 21.00 tersebut, diawali dari Ringin Kurung Alun-alun Utara, Yogyakarta. Upacara dengan sesaji komplet ini, dipimpin langsung Pimpinan Paguyuban Ngestitunggal 45 Ki Gede Nolo Sutarto dan Ki Imam Ponco Waskhito.

Sebelum keliling beteng, para peserta upacara lebih dulu mengikuti upacara ritual yang digelar persis di tengah-tengah Alun-alun Utara, Yogyakarta. Sesaji yang mereka pakai mulai dari jajan pasar sampai ingkung dan buah-buahan.

Semua peserta upacara mengenakan pakaian adat Jawa, mereka mengikuti apa yang disampaikan pimpinannya. Setelah upacara doa selesai, selanjutnyaupacara mubeng beteng.

Sebelum dimulai, para peserta diwajibkan berdoa menurut agama serta kepercayaan mereka masing-masing. Setelah itu, mereka berjalan beriring-iringan keliling betang dengan tanpa bicara.

Tidak Bicara

Selama mubeng beteng peserta tidak diperbolehkan berbicara, karena memang mereka tapa bisu. Pemandangan ini membuat sebagian warga Yogyakarta yang kebetulan mengetahui kegiatan itu langsung mengikuti dari belakang, karena ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Sedangkan menurut Ki Gede Nolo Sutarto, upacara ini dilakukan untuk menyambut datangnya Satrio Piningit yang segera akan datang pada tahun 2006. Sehubungan dengan itu, maka paguyuban kebatinan ini menggelar upacara ruwat bumi.

''Kalau dahulu pemimpin kita jalannya sudah benar, tentu saja kita sebagai generasi muda hidupnya akan tenteram, damai dan makmur tidak seperti sekarang ini,'' katanya menjelaskan. (Sugiarto-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA