logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Desember 2005 KEDU & DIY
Line

Desa Kedungwinangun KLB Demam Berdarah

  • Ditemukan 8 Kasus, Satu Meninggal

KEBUMEN - Selama 2005 di Kabupaten Kebumen terjadi 117 kasus penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dari laporan itu, yang dinyatakan positif 47 kasus dan seorang penderita meninggal akibat terlambat penanganannya. Hal itu terungkap dari evaluasi penanganan DBD 2005 di aula Dinas Kesehatan (Dinkes) Jalan HM Sarbini, baru-baru ini. Rapat dipimpin Kadinkes dokter Suprapti Hartini MKes, diikuti unsur pimpinan rumah sakit, puskesmas, tokoh agama, kader kesehatan, camat, serta kepala desa.

Meskipun dalam empat tahun sebelumnya Kebumen jarang ditemukan KLB DBD, pada tahun ini dengan temuan 47 kasus yang positif tergolong tinggi. Bahkan, dalam sebulan ini di Desa Kedungwinangun, Kecamatan Klirong ditemukan delapan kasus DBD sehingga desa itu dinyatakan KLB.

Menurut keterangan Kepala Bidang Pemberantasan (Kabid) Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kusbiantoro SKM MKes, di Desa Kedungwinangun ada seorang penderita meninggal, yaitu Nur Walidah (13). Korban meninggal akibat keterlambatan penanganan dan keluarga yang tak memiliki biaya ketika harus dirujuk ke RSD Kariadi Semarang.

Dia memperkirakan, penyebab KLB di Desa Kedungwinangun yang merupakan salah satu desa produsen genteng Sokka, Kebumen lantaran kondisi permukiman yang kumuh. Bahkan, di desa itu masih banyak kubangan air sehingga banyak mengandung jentik nyamuk.

Pihaknya telah memberi penyuluhan kepada para tokoh masyarakat, pemberian abate ke warga, gerakan kebersihan, pemberantasan sarang nyamuk, dan pengasapan (fogging).

Kriteria WHO

Bahkan, saat ini masih ada pemantauan di Desa Kedungwinangun secara terus-menerus. Salah satu kunci untuk menghindari ancaman DBD, Kabid P2PL menuturkan, pada gerakan hidup bersih jangan sampai ada tandon air yang dibiarkan tanpa dikuras secara rutin.

Sementara itu, ada yang menggembirakan karena terdapat beberapa desa endemis DBD pada 2004. Pada tahun ini, wilayah yang tidak lagi ditemukan kejadian alias nihil kasus, salah satunya Kelurahan Wonokriyo, Gombong.

Menurut keterangan Lurah Wonokriyo Supoyo, tahun lalu ditemukan 18 kasus DBD. Bahkan, pendataan staf kelurahan menemukan 43 kasus. Kini melalui peran aktif dan gerakan kebersihan para kader serta adanya insentif Rp 1 juta bagi RW yang terbebas DB, hingga awal Desember belum ditemukan kasus.

Kadinkes Suprapti Hartini mengemukakan, evaluasi penanganan DBD itu menghasilkan beberapa kesimpulan. Kepada para pengambil kebijakan, camat, dan Muspika serta kades/kalur dan pokja PKK desa hinga kelompok kerja penanggulangan untuk terus aktif membersihkan sarang nyamuk.

Kepada para pimpinan rumah sakit di Kebumen, Kadinkes mengimbau, perlu ada penegakan diagnosis DBD dengan mengacu pada ketentuan WHO. Kriterianya antara lain ditemukan demam sampai dengan tujuh hari, jumlah trombosit berkurang sampai dengan 100.000 kalori, ada peningkatan hematokrit sampai 20%, serta ada pembesaran hati. (B3-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA