| Kamis, 22 Desember 2005 | KEDU & DIY |
Suka Ngamuk, Waldi Dikurung KeluarganyaSUDAH sekitar tujuh tahun ini, Waldiyono (35) hidup di dalam ruangan berpintu besi dengan ukuran 2 x 1 meter, yang berada di bagian belakang rumah keluarganya. Warga Desa Purbosari, Kecamatan Parakan, Temanggung, yang diketahui mengidap penyakit kelainan jiwa itu, harus melakukan segala aktivitas hidup sehari-harinya di dalam ruang yang teramat sempit tersebut. Ibu Waldi, Yasminah (60) mengatakan, di dalam ruangan itu tiap hari putranya sering kali terlihat diam, kadang tertawa atau berbicara yang tidak jelas. Namun, acap pula dia bernyanyi, mengaji atau mengumandangkan azan. Dia harus telaten menyuapinya, sebagaimana anak tersebut tatkala balita. ''Pakaian yang dikenakannya selalu dirobek-robek, dia memilih bertelanjang dan hanya memakai selimut untuk menutupi badannya yang kedinginan,'' tutur ibu yang tampak masih berusaha sabar menghadapi kenyataan yang terjadi pada anaknya itu. Menurut ayah Waldi, Hadi Prayitno (70), keluarganya sepakat untuk mengurung anak keempat dari lima bersaudara itu, karena kalau sedang kambuh penyakitnya dia suka mengamuk. Kalau mengamuk, ujarnya, Waldi suka memecahkan kaca rumahnya ataupun rumah tetangga, bahkan juga pernah memecahkan kaca masjid. Selain itu, pernah pula Waldi melempari batu orang-orang yang ada di sekitarnya. ''Saya sudah tidak sanggup lagi, apabila nanti diminta untuk mengganti kaca-kaca yang dipecahkan oleh Waldi seperti dulu,'' tutur bapak yang bekerja sebagai buruh tani itu. Dia mengungkapkan, apabila Waldi dibiarkan keluar rumah, akan pergi tak tentu arah dan sulit dicari. Kalaupun ketemu, kadang tak mau diajak pulang. Sementara itu, jika hanya dikurung di kamar tidur, tenaga Waldi yang kuat mampu untuk mendobrak pintu kamar. Mengenai penyebab kelainan jiwa anaknya itu, Hadi mengisahkan, tujuh tahun lalu Waldi berupaya membangun rumah tangga dengan pasangannya. Tetapi entah mengapa, papar dia, belum ada sebulan berumah tangga, kelihatannya mereka sudah mengalami ketidakharmonisan lagi. ''Saat itu Waldi berhari-hari sering pusing dan panas,'' ucapnya. Semenjak itulah, kemudian ada perubahan perilaku pada diri anaknya. Sebagai orang tua, dia berusaha untuk menyembuhkannya, baik membawanya ke dokter maupun ke pengobatan spiritual tradisional. Setiap ada orang yang memberi masukan guna kesembuhan anaknya, ujar dia, selalu ditindaklanjuti. Meski biaya pengobatan telah banyak dikeluarkan, ternyata belum ada hasilnya. ''Sebenarnya saya tidak tega melihat keadaannya. Karena itu, kalau ada yang mau menolong guna kesembuhan anak saya ini, saya akan berterima kasih sekali,'' tutur Hadi.(Henry Sofyan-36s) |