| Kamis, 22 Desember 2005 | KEDU & DIY |
Sering Berkirim SMS Bisa Kurangi StresTEMANGGUNG - Orang tua berusia lanjut, untuk mengusir rasa sepi dan kesendiriannya memiliki keinginan untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan sesamanya. Saat berhubungan dengan orang lain itulah mereka akan bercerita dan mengenang lagi masa-masa lalunya sehingga akan mengurangi stres. ''Untuk berkomunikasi, sebetulnya dengan saling mengirim SMS saja sudah bisa mengurangi rasa stres,'' kata dokter Ismed Yusuf SpKJ dalam ceramah ilmiah ''Wanita, Stres dan Kesehatan'', dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-77 yang diselenggarakan oleh Gabungan Organisasi Wanita, Kabupaten Temanggung, di Graha Bumi Phala, Kantor Setda Temanggung, baru-baru ini. Sayangnya, lanjut dia, para orang tua itu sudah tidak telaten lagi belajar menggunakan ponsel untuk ber-SMS. Demikian pula anak-anak mereka, memandang tidak perlu mengajari orang tuanya menggunakan ponsel. Padahal lewat komunikasi dengan sesamanya, baik melalui surat maupun SMS, orang tua akan merasa terhibur. Di samping melakukan komunikasi, hal lain yang dapat mengurangi stres adalah banyak melakukan kerja fisik. Kegiatan fisik, meskipun tidak terlalu menguras tenaga, jika dilakukan dengan sepenuh hati, akan mengalihkan energi-energi mandek yang dapat memicu stres. ''Pekerjaan itu misalnya bersih-bersih rumah atau melakukan olahraga ringan, tetapi secara teratur,'' ujar dr Ismed. Karena itu, imbuh dia, para olahragawan yang melakukan kegiatan dengan banyak mencurahkan tenaga fisik tidak akan mudah stres. Hal itu sangat lain dari orang yang profesinya menuntut banyak duduk di belakang meja dan senantiasa berhadapan dengan komputer. Pertebal Keyakinan Dia juga menuturkan, hal yang lebih penting lagi untuk mengurangi stres pada masa tua itu adalah mempertebal keyakinan beragama dengan benar. Dalam semua agama, jelasnya, pasti diajarkan untuk bersabar dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Hal itu seharusnya ditafsirkan bukan untuk ngempet (menahan) keinginan, tetapi harus dimaknai agar bisa mengalihkan atau menyalurkan keinginannya kepada hal-hal yang lebih positif. Sementara itu, dia juga mengatakan, wanita lebih memungkinkan didera stres daripada pria. Sebab, permasalahan yang dihadapi wanita sangat kompleks, baik menyangkut statusnya sebagai individu, sebagai istri, ibu, maupun seorang profesional yang dibebani masalah pekerjaan. Namun, usia harapan hidup wanita lebih panjang daripada laki-laki. Pada 1995, ungkapnya, harapan hidup laki-laki 63 tahun sedangkan wanita 68 tahun. Kemudian pada 2002 masing-masing bertambah 5 tahun. ''Wanita juga lebih mampu bertahan dalam mengahadapi stres daripada laki-laki,'' tuturnya. (hsf-36n) |