logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Desember 2005 EKONOMI
Line

sekilas ekonomi

BRI Lepas Obligasi Rekap Rp 6 Triliun

JAKARTA-PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk berencana melepas obligasi rekapitalisasi senilai Rp 6 triliun pada tahun depan. Penjualan obligasi ini, untuk menutup gap antara dana pihak ketiga yang dihimpun dengan penyaluran kredit pada 2006. Wakil Dirut BRI I Wayan Alit Antara pada paparan publik Bank BUMN itu di Jakarta, Selasa (20/12), mengungkapkan obligasi yang akan dilepas merupakan obligasi rekap dengan yield (tingkat imbal hasil) 12%-13%. ''Obligasi rekap termasuk surat utang negara (SUN) ini akan dikonversi menjadi pinjaman dengan bunga 15-16% untuk menambah income perseroan,'' kata dia.

Diungkapkan, hingga akhir tahun 2005 obligasi yang dilepas BRI telah tercatat Rp 5 triliun. Sedangkan total obligasi yang dimiliki BRI sampai September lalu tercatat sebesar Rp 17,193 triliun. Untuk 2006 diharapkan pertumbuhan kredit berkisar antara 15-20% atau ada tambahan penyaluran kredit baru sebesar Rp 15 triliun. Sedangkan laba bersih diperkirakan tumbuh pada kisaran 8-10%.

Tahun 2005 ini laba bersih BRI sampai akhir tahun diperkirakan akan mencapai Rp 3,76 triliun atau meningkat dari target Rp 3,73 triliun. Menurut Dirut BRI Sofyan Basyir, bila tidak ada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.7 tentang pencadangan (provisi) kredit bermasalah dan kerugian akibat marked to market obligasi, sebenarnya perolehan laba bisa lebih besar melampaui Rp 4 triliun. (A20-33)

PT DI Tolak Sistem Imbal Beli

BANDUNG-PT Dirgantara Indonesia menyatakan proses pembelian sepuluh unit pesawat terbang CN-235 oleh Pemerintah Thailand tidak menggunakan cara imbal beli atau imbal dagang. Jika itu dilakukan, mereka siap menolaknya.

Demikian Pelaksana Tugas Direktur Utama PT DI, Nuril Fuad di Gedung Pusat Manajemen PT DI, Rabu sore. ''Kendati kita pernah melakukannya tempo hari, pembelian CN-235 dengan ditukar beras misalnya, cenderung kurang realistis,'' katanya.

Menurut dia, kali ini Pemerintah Thailand langsung membeli pesawat propeler itu ke PT DI. Memang pada tahun 2000, kedua pihak pernah mengadakan kerja sama. Dua unit CN-235 jenis pembuat hujan dan VIP senilai 46 juta dolar AS diimbal beli dengan beras ketan.

Sepuluh unit CN-235 senilai 200-220 juta dolar AS itu, kata Nuril, enam di antaranya diproyeksikan untuk keperluan pembuatan hujan buatan oleh Departemen Pertanian serta sisanya untuk kebutuhan Departemen Pertahanan Thailand.

Penyerahan pertama pesawat dilakukan pada akhir 2006. Saat ini, tengah dilakukan negoisasi intens dan detail, termasuk harga dan klausul kontrak di antara kedua belah pihak. Untuk membangun 10 pesawat terbang sayap tetap itu, PT DI mengandalkan permodalan dari working capital, yang di antaranya berasal dari perbankan. (dwi-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA