logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Desember 2005 EKONOMI
Line

33 Tahun Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia

Ikut Membidani Lahirnya Klompencapir

JAKARTA-Peran Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) dalam memajukan industri pers tidak diragukan lagi. Namun tidak banyak yang tahu organisasi ini memiliki perjalanan panjang, sehingga eksistensinya diakui. PPPI didirikan 20 Desember 1972, menggantikan asosiasi sebelumnya, Persatuan Biro Reklame Indonesia (PBRI).

Penggunaan istilah biro reklame dianggap tak cocok lagi pada masa itu. Istilah periklanan yang diadopsi dari bahasa Inggris advertising agency, diputuskan lebih tepat. Anggota PPPI menginginkan perbedaan citra biro-biro reklame pinggir jalan. Karena sejak pertengahan 1965 dunia periklanan Indonesia mulai bersentuhan dengan periklanan modern.

Savrinus Suardi, pendiri PPPI, menilai peran organisasinya di masa lalu, di antaranya sukses membudayakan komunikasi langsung. Satu karya monumentalnya, yakni ikut membidani lahirnya kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa (Klompencapir).

Model komunikasi langsung Klompencapir kala itu amat populer dan melambungkan nama H Harmoko sebagai Menteri Penerangan tiga periode. Namun apakah model komunikasi ala Klompencapir masih cocok di era sekarang, tidak dijelaskan oleh Savrinus.

Baty Subakti, mantan Ketua Umum PPPI mengungkapkan, saat pertama pendirian PPPI, 40 persen anggota agency multinasional. Tapi agency nasional maupun multinasional memiliki vote yang sama.

Pernyataan di atas mengemuka dalam silaturahmi Pengurus Pusat PPPI dan Pengurus Daerah PPPI DKI, dalam rangka HUT ke-33 organisasi itu, di Jakarta, Rabu. Hadir antara lain Ketua Umum PPPI 2005-2008 Narga Shakri Habib bersama Irfan Ramli (sekjen) serta seluruh Pengurus Pusat, Dewan Pertimbangan PPPI, Ketua Pengda PPPI DKI Adnan Iskandar beserta Pengurus Daerah, juga Perwakilan Pengda PPPI Jawa Tengah Harry Affandi.

Hilang

Dalah acara itu, para penggerak PPPI di masa awal berdiri hingga kini berkumpul. Di antaranya Savrinus Suardi Wakil Ketua PPPI pada saat pendiriannya tahun 1972, bersama dengan para mantan ketua, sekjen dan pengurus terdahulu seperti Billy, GI Islan, Syarifuddin Noor, Jusar Junin, Wisaksono Noeradi, Baty Subakti, Yusca Ismail, Koes Pudjianto, RTS Masli serta sejumlah aktivis industri periklanan nasional.

Yusca Ismail mengingatkan menjelang keaktifannya di asosiasi periklanan, pendirian asosiasi lain di luar PPPI pernah terjadi dengan hadirnya Himpunan Praktisi Periklanan Indonesia (HPPI), yang kemudian hilang dengan sendirinya. ''Jadi kalau sejarah lalu berulang, tidaklah merupakan hal mengherankan.''

Gagasan pembentukan asosiasi baru kemudian diprakarsai oleh anggota delegasi Indonesia untuk Asian Advertising Conggress dengan pembentukan asosiasi baru di restoran Chez Mario, Jalan Juanda III/23 Jakarta.

Hasilnya pada 20 Desember 1972, lahirlah asosiasi baru bernama PPPI. Organisasi baru ini menawarkan wacana dan imej baru yang lebih maju dari sekadar kolportir iklan seperti yang dilakukan asosiasi sebelumnya.

Narga Shakri Habib, Ketua Umum PPPI periode 2005-2008, menjelaskan untuk menjembatani realisasi cita-cita akreditasi ini, kepengurusannya telah menetapkan berbagai langkah. Secara internal, langkah ini diawali dengan mewujudkan satu dari amanat kongres ke-13, yaitu melakukan klasifikasi anggota.

''Rapat kerja pengurus pusat PPPI telah menggariskan program kerja untuk mewujudkan intisari amanat Kongres ke-13 yaitu, tata niaga periklanan yang sehat, penataan organisasi dan pengembangan daerah,'' tambahnya. (wa-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA