| Kamis, 22 Desember 2005 | BANYUMAS |
Pelayanan KB Belum MaksimalBANJARNEGARA - Banyak keluarga miskin belum memperoleh pelayanan KB secara maksimal. Apalagi, kata Kepala Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (KBPM) Darmono melalui Kepala Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi Bambang Siswanto, kesadaran masyarakat miskin untuk ber-KB masih rendah. Banyak warga miskin itu berada di perkotaan. Namun selain faktor ekonomi, banyak faktor lain perlu dan terus dikaji. Saat ini 95.167 keluarga prasejahtera dan 68.800 keluarga sejahtera I. Padahal, keseluruhan keluarga di Banjarnegara 245.757. Dia menyatakan pemerintah telah menyediakan alat kontrasepsi gratis. Keluarga miskin bisa memanfaatkan asuransi kesehatan (askes) untuk keluarga miskin. Sementara itu, peran serta masyarakat terutama pria untuk ber-KB menurun karena keterbatasan alat kontrasepsi, yakni kondom dan vasektomi. Kebanyakan pria enggan menggunakan kondom dengan alasan kurang nyaman. ''Hambatan untuk vasektomi adalah kejiwaan, yakni takut kehilangan kejantanan. Atau istri takut, jangan-jangan sang suami menyalahgunakan keadaan itu,'' katanya. Alasan yang tak jauh berbeda terjadi pada penurunan penggunaan spiral di kalangan wanita. Mereka beralasan kurang nyaman. Padahal, penggunaan spiral lebih aman dari efek samping. Dia menyatakan tersedia konseling bagi calon peserta KB untuk mengetahui efek samping dan alat yang cocok. Karena itu warga masyarakat tak perlu takut menjadi peserta KB. Peserta KB baru sampai dengan November 2005 ini 16.797 orang. Mereka terdiri atas pemakai spiral (IUD) 407, medis operatif pria 18, medis operatif wanita 747, implan 902, suntik 10. 568, pil KB 3.753, dan kondom 402. (mos-53) |