logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Desember 2005 PANTURA
Line

Bawang Merah Kecil-kecil, Petani Rugi

BREBES- Memasuki musim panen bawang merah kali ini, sejumah petani di Kabupaten Brebes mengeluh rugi. Sebab, biji bawang merah yang mereka hasilkan kecil-kecil dan berkualitas tidak maksimal.

Rendahnya kualitas hasil panenan itu antara lain dialami oleh sejumlah petani di Kelurahan Padasugih, Kecamatan Brebes. Tanaman bawang merah yang dipanen saat ini ditanam September lalu atau pada musim tanam ketiga.

Menurut sejumlah petani di Kelurahan Padasugih, seharusnya biji bawang merah yang dihasilkan besar-besar. Namun karena terserang ulat dan hama lerek maka tanaman bawang tidak dapat tumbuh sempurna. Akibatnya, biji bawang merah yang dihasilkannya pun tidak sempurna.

Menurut seorang petani, Warno (45), mereka sudah berupaya membasmi ulat dan hama perusak tanaman bawang merah dengan berbagai obat. Bahkan, mereka setiap hari memunguti ulat yang ada di dalam pohon bawang merah.

"Untuk obat pembasmi hama lerek, harganya mencapai Rp 125.000/ons," ujarnya.

Namun, ternyata upaya tersebut tidak memberikan hasil maksimal. Ulat dan hama tetap ada dan merusak tanaman bawang merah, sehingga biji yang dihasilkan hanya kecil-kecil dan berkualitas rendah. Akibatnya, nilai jual bawang tersebut juga murah.

Warno menuturkan, biasanya sekitar 1.000 m2 lahan miliknya bisa menghasilkan sekitar satu ton bawang merah. Dia mengaku menjualnya dengan sistem tebas (borongan), yaitu Rp 3,5 juta. Namun, karena bawang yang dihasilkan saat ini kecil-kecil maka dia hanya mampu menjual bawang merahnya tersebut seharga Rp 2 juta-Rp 2,5 juta.

Padahal, dari biaya pembelian bibit, perawatan hingga pemanenan untuk luas lahan tersebut mencapai Rp 2 juta. Akibatnya, para petani hanya mendapatkan hasil impas, bahkan terkadang merugi. Tenaga kerja mereka sebagai pemilik tanah juga tidak dihargai. "Tetapi bagaimana lagi, bertani adalah pekerjaan kami. Jadi apa pun hasilnya ya tetap dilakukan," ujar Warno.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh petani lain, yaitu Karyan. Selain karena serangan ulat dan hama, jeleknya hasil panen kali ini juga disebabkan cuaca yang kurang menguntungkan. (H17-52s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA