| Rabu, 21 Desember 2005 | OLAHRAGA |
''Kami Berharap Makarius Korban Terakhir''
SEMARANG-Manajemen tim PSIS memenuhi janjinya untuk memberi tali asih kepada suporter yang terkena musibah saat mendukung Indriyanto Nugroho cs bertanding di luar kandang. Mereka yang mendapat tali asih tersebut adalah keluarga (alm) Makarius Puji Sulistyo (anggota Snex) dan Slamet Priyanto (anggota Panser Biru). Tali asih tersebut diserahkan Wakil Manajer Tim Setyo Agung Nugroho Selasa siang kemarin dengan didampingi pengurus masing-masing kelompok suporter. ''Meski jumlahnya tidak banyak, tali asih ini merupakan bentuk kepedulian manajemen dan pemain PSIS terhadap suporter,'' tutur Agung. ''Kami berharap Makarius korban terakhir. Kami tidak ingin ada lagi suporter yang jadi korban. Ini harus jadi pelajaran bagi pengurus suporter,'' tambahnya. Makarius meninggal dunia karena terjatuh dari KA Brantas saat melintas di Kabupaten Batang pada 11 Desember lalu. Ketua Korwil Snex Banyumanik tersebut akan berangkat ke Jakarta untuk mendukung Mahesa Jenar di turnamen Piala Emas Bang Yos III. Sedangkan Slamet mengalami musibah ketika akan mendukung Indriyanto Nugroho cs berlaga di babak delapan besar Kompetisi Liga Indonesia XI. Anak semata wayang dari Kasmini yang beralamat di Banjardowo RT 2 RW 4 Kecamatan Genuk Semarang tersebut terjepit kakinya di antara rel di Stasiun Jatinegara. Kakinya harus diamputasi hingga sebatas paha. Saat ini kondisi Slamet memprihatinkan dan masih perlu penanganan medis. Pemain Kedatangan manajemen tim ke rumah keluarga almarhum Makarius di Jalan Rasamala Timur 2 No 149 Banyumanik, didampingi oleh beberapa pemain seperti Indriyanto Nugroho, I Komang Putra, Harri Salisburi, Maman Abdurahman, dan Khusnul Yaqien. Sedangkan dari pengurus Snex yang datang antara lain Ketua Umum Edy Purwanto. Bantuan dari manajemen tersebut diterima langsung oleh ayah Makarius, Soenardi. ''Tentu saja kami sangat berterima kasih atas kepedulian manajemen terhadap anggota Snex. Itu akan kami balas dengan terus mendukung PSIS secara all out,'' tambah Edy Purwanto. Saat berkunjung ke rumah Slamet di Banjardowo Kecamatan Genuk, para pemain PSIS tidak bisa mendampingi manajemen. Mereka harus segera kembali ke mes untuk istirahat. Pasalnya, sore harinya mereka menjalani latihan fisik yang berat. Ibu Slamet, Kasmini, sangat berterima kasih atas bantuan manajemen. Bantuan tersebut memang sangat dibutuhkannya untuk membiayai pengobatan Slamet yang menjalani rawat jalan. ''Untuk mengobati Slamet kami sudah habis puluhan juta rupiah. Padahal, saya cuma buruh rumah tangga. Bantuan ini sedikit meringankan saya,'' tandasnya. (H13-22) |