| Rabu, 21 Desember 2005 | OLAHRAGA |
Brasil Tim Terbaik, Prinz HattrickZURICH - Menduduki peringkat satu dunia secara konsisten, membuat Brasil dinobatkan sebagai tim terbaik dunia 2005 oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di Zurich, Swiss, Selasa dini hari WIB kemarin. Sukses Brasil semakin sempurna karena salah satu bintangnya, Ronaldinho, juga dianugerahi gelar pemain terbaik dunia. Keberhasilan Tim Samba ini memang tak terbantah. Mereka pantas mendapatkannya setelah serangkaian prestasi yang dibukukan tim dari Amerika Selatan itu. Tahun ini saja Tim Samba memenangi Piala Konfederasi di Jerman. Brasil pun tercatat sebagai satu-satunya negara yang selalu tampil di putaran final Piala Dunia. Negeri penghasil kopi ini menjadi tim yang paling sering juara dunia. Brasil merebut Piala Dunia pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002. Negara lain paling banter juara tiga kali, yakni Jerman (1954, 1974, dan 1990), dan Italia (1934, 1938, dan 1982). ''Brasil pantas menerima penghargaan ini atas apa yang telah mereka perbuat,'' kata Presiden FIFA Sepp Blatter. Tim Samba yang kini dilatih Carlos Alberto Parreira, menjadi unggulan utama di Piala Dunia 2006 bersama Italia, Prancis, Argentina, Spanyol, Inggris, Meksiko, dan tuan rumah Jerman. Pada putaran final nanti, Cafu cs berada di Grup F bersama Kroasia, Jepang, dan Australia. Birgit Prinz Pada acara ini FIFA juga memberikan penghargaan pesepakbola terbaik putri yang jatuh ke tangan Birgit Prinz. Pemain Jerman itu membuat hattrick karena tiga tahun tanpa putus mendapat award tersebut. Dalam poling, Prinz mengalahkan Marta dari Brasil, dan Shannon Boxx (AS). Kemenangan striker Jerman ini terhitung fenomenal lantaran mampu mengungguli pesepakbola putra. Selama ini belum ada pemain putra yang menang tiga kali secara berturut-turut. Penghargaan Fair Play diberikan Iquitos, sebuah kota di Peru yang sukses menggelar kejuaraan dunia U-17. Sementara President Award diberikan pada wasit asal Swedia, Anders Frisk. Frisk mengundurkan diri sebagai wasit pada Maret lalu setelah dia dan keluarganya diancam akan dibunuh. Saat itu dia memimpin pertandingan perempat final Liga Champions antara Barcelona dan Chelsea. (rtr,A7-31) |