| Rabu, 21 Desember 2005 | OLAHRAGA |
PASI Tidak Akan NgototJAKARTA- PB PASI tidak akan bersikap ngotot jika ada kehendak dari KONI Pusat untuk tidak mengirim para atlet atletik ke Asian Games 2006 di Qatar. Bersikap realistis dengan keadaan yang ada merupakan pilihan yang paling bijak dalam menghadapi persaingan atletik di tingkat Asia. ''Ini juga berlaku untuk Oliva Sadi yang meraih emas lari 1.500 meter pada SEA Games XXIII. Kita harus realistis dengan kondisi prestasi atletik sekarang ini. Peluang untuk merebut medali di Asian Games memang sangat sulit," ujar Sekjen PB PASI, Tigor Tandjung, kemarin. Menurut Tigor, empat atletnya yang diproyeksikan ke Asian Games melalui program Indonesia Bangkit (IB) hampir sebagian besar tidak menunjukkan kemajuan prestasi. Dua atlet tersebut adalah Edy Jakariya dan Achmad Sakeh. PB PASI akan berkonsultasi dengan KONI Pusat dan memberikan pertimbangan layak atau tidaknya keempat atlet itu berangkat ke Asian Games. Dari sekitar 40 medali emas yang diperebutkan di SEA Games Manila, cabang atletik hanya menyumbangkan satu emas bagi kontingen Indonesia. Sprinter andalan, John Herman Murray yang diharapkan membawa pulang dua emas dari nomor spesialisasinya, 100 meter dan 200 meter, gagal total. Bahkan di nomor estafet 4x400 meter, atlet asal Papua itu didiskualifikasi karena stick estafet yang dipegangnya terjatuh menjelang finis, membuat medali yang sudah di depan mata melayang. Tigor menjelaskan, penyebab kegagalan cabang atletik meraih medali emas di SEA Games Manila adalah karena ketidaksiapan dibandingkan negara peserta lainnya. Penyebab kegagalan lain adalah faktor pengurus yang tidak tegas, pelatih kurang bermutu, serta atlet yang tidak disiplin. "Ini yang akan kita benahi ke depan. Jika seperti ini terus, jangan harap ada prestasi dari cabang atletik," tandasnya. Tigor juga mengungkapkan, tujuh atlet dipanggil untuk mengikuti Kejuaraan Atletik Indoor Asia di Pattaya Thailand, 10-12 Februari 2006. Mereka adalah Oliva Sadi, Rini Budiarti, Dedeh Erawati, Asrul Akbar, Suryo Agung Wibowo, Haryono, dan Jauhari Johan. ''Sebelum berangkat mereka harus tetap tes. Kalau gagal tidak jadi diberangkatkan,''ucapnya. (D3-40) |