| Rabu, 21 Desember 2005 | OLAHRAGA |
Akasa Rambing Ingin Matang Dulu di AmatirJUARA nasional amatir sudah dalam genggaman. Tetapi itu belum cukup bagi Akasa Rambing, yang baru saja sukses merebut medali emas kelas ringan (60kg) dalam Kejurnas Tinju Amatir di Pelataran Hotel Augusta, Pelabuhan Ratu Sukabumi, Sabtu (17/12) lalu. Sampai saat ini, petinju yang dibina Sasana Bank Buana Semarang tersebut, belum memiliki angan - angan untuk terjun ke dunia tinju profesional, seperti yang pernah dilakukan oleh kedua kakaknya, Sony Rambing dan Artur Rambing. Tampaknya, putra pelatih Sutan Rambing ini memiliki obsesi lain. Dia masih penasaran karena tidak lolos ke PON XVI 2004 Palembang, sehingga ingin mencoba sekali lagi membela kontingen Jateng menuju PON XVII Kaltim tahun 2008. ''Rasanya belum lengkap kalau belum bisa juara PON. Saya ingin matang dulu di tinju amatir. Saya baru memikirkan tinju profesional setelah meraih medali PON XVII Kaltim,'' janji Akasa. KONI Jateng kini telah mengikat petinju yang biasa turun di kelas ringan (60 kg) ini menjadi anggota tim pelatda jangka panjang (PJP) bersama rekannya, Achmad Amri, peraih medali perak kelas berat ringan (81 kg) yang kini bergabung dengan Pelatnas Jangka Panjang di Ragunan. ''Tinju sudah menjadi dunia saya, sehingga harus saya pikirkan masak - masak sebelum menekuni tinju profesional. Ada aturan yang sangat mengikat. Setelah turun di tinju profesional tidak boleh kembali ke amatir lagi,'' tandasnya. STE Riau Melihat perjalanan sejak awal saat tampil dalam Kejurnas 2005 yang mempertandingkan 11 kelas tersebut, penampilan Akasa tampak istimewa. Tiga lawannya dikalahkan sebelum ronde kedua dari empat ronde yang direncanakan. Semua karena terjadi pertarungan tidak imbang. Baru di partai final, petinju yang memiliki tinggi badan 174 cm ini mendapat perlawanan berarti dari David Isikiwar, peraih medali emas PON XVI Palembang, asal Maluku. Tetapi di atas ring, David yang jebolan PPLP Tinju Ambon ini dibuat tidak berdaya. Pukulan jab- straight Akasa sering menghasilkan angka. Selama dua menit ronde pertama, Akasa sudah unggul angka 11-4, sebelum menang angka 45-35 pada ronde keempat. Petinju kelahiran Semarang 1 Januari 1984 ini sempat difavoritkan bakal menyandang gelar petinju terbaik. Tapi, hakim dan juri lebih mengutamakan petinju tuan rumah. Karena itulah, petinju Martin Surati dari Jabar, yang menjadi juara kelas layang ringan 45 kg dinobatkan sebagai petinju terbaik. Padahal di final, Martin sempat dipukul jatuh oleh Yanto Fallo dari NTT. ''Itu biasa. Petinju tuan rumah selalu dipaksakan menjadi petinju terbaik,'' kata Sutan Rambing, ayah sekaligus pelatih Akasa Rambing. Kini tantangan berat menunggu Akasa, karena petinju - petinju terbaik Kejurnas 2005 bakal diundang oleh PB Pertina untuk mengikuti turnamen Sarung Tinju Emas (STE) di Riau, Januari 2006. (Mundaru Karya-40) |