| Rabu, 21 Desember 2005 | WACANA |
Surat PembacaTagihan PDAMTagihan rekening PDAM saya biasanya berkisar Rp 65 ribu s.d Rp 90 ribuan. Tetapi bulan Juli 2005 melonjak sampai Rp 190 ribu. Setelah 3 bulan berturut-turut tagihan tidak kembali normal, saya lapor dan akhirnya bulan Oktober datang petugas untuk mengganti meteran yang katanya sudah usang. Penggantian meteran dikenakan biaya Rp 48.000. Namun anehnya tagihan bulan Oktober yang dibayarkan bulan November malah melambung hingga Rp 335 ribu. Saya komplain tapi jawabannya tidak memuaskan. Petugas menyatakan kemungkinan ada kebocoran pipa dan tagihan sudah sesuai angka meteran. Tentu bukan seperti itu cara PDAM menaikkan pendapatan bukan?. Lalu ada lagi rencana kenaikan 20%. Hampir bisa dipastikan cara kerja seperti ini diteruskan, masyarakat "bawah" tidak akan mampu mengonsumsi air bersih. Mohon disikapi dengan arif, mengingat air bersih merupakan kebutuhan vital. Yulianto Agung BL Jl Tejo Kusumo II/1, Semarang *** Awas, Produk Tiruan PT Kuantan Utama Karyawan saya, Sulistyo terpaksa saya laporkan ke Polda Metro Jaya karena melakukan tindak pidana yang mengakibatkan perusahaan rekanan TNI/Polri ini mengalami kerugian miliaran rupiah. Tindak pidana tersebut meliputi pencurian barang, perusakan komponen utama peralatan komputer dan lainnya milik PT Kuantan Utama. Pencurian diperkirakan berlangsung selama 3 tahun. Selain itu, dia juga sering menerima order untuk keperluan pribadi dengan memanfaatkan kantor perusahaan. Beberapa peralatan vital yang dicuri antara lain komponen komputer pada mesin utama, mesin gravir, disket desain, kalung jatidiri dan lainnya. Setelah mendengar dilaporkan ke polisi, dia datang ke kantor di Sentra Salemba Mas Jl Salemba Raya No 34/36 Jakarta menyerahkan komponen komputer mesin utama. Tetapi setelah dipasang mesin yang harganya ratusan juta rupiah itu tetap rusak. Perusahaan ini selama hampir 50 tahun menjadi rekanan TNI/Polri memproduksi atribut dan perlengkapan lain termasuk tanda pangkat, emblem yang terbuat dari logam maupun bordir. Saya menjadi rekanan sejak tahun 1970 dan semua produksinya memiliki Skep baik dari Panglima TNI, Kapolri, dan Skep Danjen Akademi TNI. Perusahaan ini membuat riset, penelitian, mendesain dan melakukan berbagai percobaan. Karena itu menjadi pionir dalam membordir, menggravir dan membuat atribut dari logam yang dikerjakan dengan komputer. Akibat berkualitas baik, banyak pihak yang kemudian mencontoh/meniru dan memproduksi barang serupa dengan kualitas yang tidak sempurna. Untuk itu, saya imbau para pengguna tanda pangkat dan lainnya agar tidak tertipu dengan produk tiruan. Direktris Dra Christien Setyaningsih *** Polres Pekalongan Pada 25 November 2005, showroom PT Columbia Jl Raya Kajen Pekalongan kemasukan pencuri yang mengambil 11 unit produk CTV, Midi CVD, DVD hingga total kerugian Rp 17,6 juta. Peristiwa ini saya laporkan ke Polres dan pelaku berhasil ditangkap 4 Desember 2005. Sebagian barang berhasil ditemukan kembali. Atas prestasi kerja polisi, saya selaku pimpinan perusahaan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolres Pekalongan dan jajarannya. Wellem Radja *** Mana Tanggung Jawab PT Wika Proyek pembangunan rel ganda Yogya - Kutoarjo yang dilaksanakan di bawah PT Wika nampaknya hanya menambah keruwetan di jalan-jalan yang dilalui kendaraan proyek dan menambah rusak. Di Kecamatan Bayan khususnya jalan Desa Boto Daleman - Botorejo - Dewi kondisi kerusakan jalan sangat parah. Kendaraan proyek mengakibatkan jalan bergelombang, kalau hujan terjadi genangan dan berlumpur. Sebelumnya jalan tersebut memang rusak, tapi tidak separah sekarang. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat baik pedagang, siswa dan angkudes. Ir.S Adi Susilo MM selaku Proyect Fungtion Service Manager PT Wika mengirim surat ke kepala Desa Dewi, Botorejo dan Boto Daleman. Isinya kesanggupan melaksanakan perawatan jalan selama proyek berlangsung dan memperbaiki yang rusak akibat pelaksanaan proyek. Kenyataan, perusahaan belum melaksanakan kesanggupan tersebut, terbukti makin parahnya jalan desa. Memang PT pernah memberi beberapa truk material berupa campuran pasir dan batu (sirtu), itu pun terjadi setelah pihak desa dan Aliansi Pemuda Peduli Daerah (Alip Perah) berkali-kali melayangkan surat. Namun hal itu belum saya anggap sebagai bentuk usaha perawatan jalan dari pihak perusahaan. Sejauh ini kondisi jalan tidak ada perubahan bahkan bisa dikatakan makin parah. Untuk itu demi menjaga hubungan baik, saya minta manajernya melaksanakan berlangsung seperti yang dijanjikan. Juga agar turun langsung ke lapangan memantau dampak dari pelaksanaan proyek terutama kerusakan jalan yang dilalui kendaraan mereka. Koordinator Alip Perah Cristian Agus Irawan SPd *** Generasi Muda dan Seni Wayang Jarak yang makin jauh anak-anak dari seni wayang sudah lama menjadi keprihatinan banyak kalangan. Hal tersebut sering dibahas di media, disarasehankan para budayawan. Menurut pengamatan saya, setiap pergelaran wayang, tanggapan penonton umumnya didominasi orang setengah baya. Jarang ditonton anak-anak kecil, para remaja maupun ibu-ibu. Mengapa, karena pergelaran berlangsung semalam suntuk, banyak yang enggan nonton karena tidak kuat menahan kantuk. Buat bapak-bapak bila mau menonton pun akan berpikir dua kali. Buat para ibu, nonton jauh malam akan sungkan Para pejabat kalau nonton umumnya hanya sampai adegan limbukan (sekitar pukul 22.00), setelah itu pamit. Memang banyak dalang telah melakukan inovasi untuk menarik minat kalangan muda seperti pada adegan limbukan atau goro-goro yang disisipi musik campursari, dangdutan, pop. Hasilnya lumayan menarik minat kaum muda, walau belum signifikan. Seusai sisipan tersebut penontonnya turun drastis. Menurut saya, siasat untuk menggulung jarak antara penonton belia dengan wayang, yakni waktu pergelaran dirombak. Durasi pergelaran tetap 8 jam, hanya waktu mulainya pukul 15.00 s.d 23.00. Saya yakin anak kecil, remaja, para ibu dan bapak akan antusias menonton. Menjelang magrib pergelaran istirahat sebentar untuk memberi kesempatan penonton, wiyaga, sinden dan dalang melaksanakan shalat. Setelah itu pergelaran dimulai kembali. Saya yakin penonton akan tambah banyak terutama anak kecil, remaja, para ibu dan bapak tanpa khawatir bangun kesiangan. Dengan demikian tujuan seni wayang sebagai salah satu tuntunan budi pekerti bisa terwujud. Subandi Suhartanto Jl KH Wahid Hasyim 1, Yogyakarta *** Andai Saja.... Negeri ini benar-benar bagai kapal yang siap karam akibat digerogoti warga negararya sendiri. Masalah tak pernah berhenti, datang bertubi-tubi. Pokok masalah semua ini adalah mental. Tak heran jika jadi negara terkorup dan termiskin di dunia. Begitulah adanya. Tak heran jika KKN mengakar dari tingkat paling rendah sampai tertinggi seperti lembaga sekelas dan seterhormat MA. Jadi jangan salahkan masyarakat. jika rakyat apriori atas apa yang disebut sebagai aparat negara. PNS keluyuran pada jam kerja juga sebagai korupsi waktu. Uang damai jika terkena tilang, pungutan liar di jalan, di intansi pemerintah sudah biasa terjadi. Sampai kadang menganggap KKN sebagai makanan sehari-hari, Saya paling malas berurusan dengan aparat pemerintah. Empat tahun lalu saya kehilangan dompet di bus saat pulang kuliah. Isinya hanya uang kecil yang tak seberapa. Atas desakan ibu, akhirnya saya malas melaporkan ke polisi, tapi sudah kehilangan dompet, eh mesti kehilangan ''uang administrasi'' untuk bapak Polisi. Itu hanya contoh kecil berakarnya korupsi di negeri ini. Andai saja kita punya mental untuk bersyukur dan merasa malu mengambil yang bukan haknya, mungkin KKN bisa terkikis. Andai saja... Mari mulai dari diri masing-masing untuk memperbaiki. Kalau saja orang punya rasa ewuh pakewuh yang tinggi...Kalau belum bisa punya malu pada orang lain, malu pada diri sendirilah yang paling baik. Syukur kalau malu pada yang mengawasi di mana pun kita berada. Tuhan tidak pernah tidur. Ikaningsih Ngadirojo Rt 4/Rw 1, Wonogiri |