logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Desember 2005 MURIA
Line

Sejumlah Fosil Temuan Patiayam Mulai Rusak

KUDUS- Meskipun ratusan fosil temuan di kawasan pegunungan Patiayam, tepatnya di Dukuh Kancilan Karangsuda, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, sudah banyak ditemukan, penyimpanan benda bersejarah itu masih dilakukan dengan asal-asalan. Padahal, benda yang berusia telah mencapai ratusan tahun tersebut sangat mudah rusak. Baik karena faktor benturan, suhu maupun kelembaban.

Berdasarkan pengamatan Suara Merdeka di tiga tempat penyimpanan, yakni di rumah salah seorang warga Desa Terban, Musthofa, balai desa setempat, dan di salah satu ruangan di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kudus, benda-benda tersebut memang masih belum mendapatkan perhatian khusus. Hal itu sangat bertolak belakang dengan keinginan pemkab beberapa waktu lalu, yang sangat ingin mengelola sebuah kawasan situs ketujuh di Indonesia.

Anehnya, janji untuk membangun sebuah gudang khusus penyimpanan fosil temuan -suatu hal yang sangat penting sekarang ini- justru tak lagi kedengaran lagi gaungnya. Ketika hal itu dikonfirmasikan kepada Kasi Sejarah, Museum, dan Purbakala pada Disparbud, Sancaka DS, pihaknya mengakui selama sebulan ini memang aktivitas pengelolaan situs di kawasan tersebut bisa dikatakan stagnan.

"Kami tak mempunyai cukup dana untuk melakukan usaha penggalian dan pelestarian di tempat tersebut," ujarnya.

Belum Layak

Juga, akibat masih belum layaknya tempat penyimpanan temuan fosil, sejumlah fosil yang disimpan di tiga tempat tersebut, sebagian di antaranya mulai rusak. Kerusakan benda yang kemungkinan bernilai historis tinggi tersebut, selain patah, pecah, juga hilang pada beberapa bagiannya.

"Kami memang sangat membutuhkan gudang khusus penyimpanan temuan ini. Sesuatu yang sampai kini belum dapat direalisasi pemkab, akibat belum adanya anggaran."

Tak menutup kemungkinan, ujarnya, sekitar 500 potongan fosil yang ditemukan dalam 10 kali penggalian tersebut, secara perlahan juga akan mengalami kerusakan. Mengingat, sebenarnya benda-benda itu memerlukan penanganan tersendiri dan tak diletakkan dengan cara yang dilakukan seperti saat ini.

"Masalahnya, kami memang sama sekali tak mempunyai dana untuk itu," tandasnya.

Untuk pembangunan gudang saja, kata dia, diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta. Juga untuk pembuatan peta potensi temuan fosil, penggalian, dan pemberian uang jasa bagi yang menemukan, diperkirakan akan menguras dana paling tidak Rp 150 juta. Jadi, jika alokasi dana untuk kepentingan tersebut belum dapat disediakan, kelanjutaan realisasi situs Patiayam kemungkinan akan tersendat. "Kami khawatir, bila penyimpanannya masih seperti sekarang ini, akan lebih banyak lagi temuan fosil yang turut rusak." (H8-50s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA