| Rabu, 21 Desember 2005 | MURIA |
Suka Duka Nelayan pada Awal Musim Barat (1)"Kami Bisa Jual Perabot Rumah"BERSAMA istri, Rusmanto mengamplas perahu kecilnya di daratan pinggir pantai di Desa Ujungbatu, Kecamatan Jepara. Ada tiga perahu lain di sekitar perahu miliknya. Satu perahu rusak sedemikian parah hingga tak bisa diperbaiki lagi, sedangkan dua lainnya rusak sedang. Perahu Rusmanto itu memiliki panjang kurang dari enam meter dengan lebar 1,5 meter. Cukup baik kondisinya karena perbaikan yang mereka lakukan tinggal penyempurnaan. Sekalipun demikian, warga Desa Wonorejo, Kecamatan Jepara itu tak bisa menyembunyikan pancaran wajah kesedihan. Kalaupun toh perahunya sudah normal, dia tak akan bisa melaut. Cuaca buruk dalam empat hari terakhir membikin "prahara" di perairan Laut Jawa. Tak mungkin bagi Rusmanto dan ribuan nelayan lain dengan perahu kecil nekat melaut, menerjang risiko alam itu. Susahnya, hanya dengan berangkat melautlah Rusmanto dan nelayan-nelayan lain bisa menghidupi keluarganya. Atau paling tidak, bisa menutup utang akibat kerugian antara biaya operasional melaut yang tak seimbang dengan penghasilan. "Kalau sampai kami tidak melaut selama sebulan saja, perabotan rumah seperti radio, piring, dan kursi bisa kami jual untuk menutup kebutuhan," tuturnya. Ungkapan Rusmanto terdengar dramatis, meski hal itu belum dilakukannya. Paling tidak, ungkapan itu adalah cerminan bayangan kekhawatirannya terhadap kondisi kehidupan nelayan kecil. Tahun lalu, nelayan masih bisa menghela napas dengan lancar karena harga bahan bakar minyak (BBM) masih "agak" terjangkau. Kini mereka dihadapkan pada dua tantangan yang mendera dalam waktu bersamaan, yaitu kenaikan harga BBM yang berimbas pada melemahnya ekonomi nelayan dan terhentinya aktivitas melaut akibat cuaca buruk. "Saya hadapi tantangan ini dengan kekuatan mental," tekadnya. Tergerus Keluhan Rusmanto pada awal musim angin barat tak terdengar nyaring sendirian. Yoyok (45), penghuni baru kawasan pantai di lingkungan RT 15 RW 4, Desa Ujungbatu, Kecamatan Jepara, juga menyimpan kisah yang lebih miris. Pria berputra satu itu menempati rumah bambu, hanya lima meter dari garis air pantai saat kondisi pasang. Baru setahun rumah itu didirikan. Bersama istri dan anaknya, Yoyok tinggal di tempat itu. Yoyok adalah buruh biasa, sedangkan istrinya kadang-kadang nyambi mencari kesibukan di tempat pelelangan ikan (TPI). Sejak musim angin barat terasa dalam empat hari terakhir, Yoyok dan keluarganya tak bisa tidur malam. "Saya mengawasi talut di bagian belakang rumah yang disambar ombak besar setiap malam," tuturnya. Pada Senin (19/12) lalu Yoyok terlihat menguruk talutnya yang ambrol tergerus ombak. "Empat hari ini, tiap pagi saya memperbaiki talut. Kami tidak tidur malam, khawatir ombak lebih besar merusakkan talut dan dinding rumah bagian belakang," ujarnya. Tak hanya Yoyok yang rumahnya berdekatan dengan percikan ombak. Puluhan rumah lainnya juga dalam kondisi yang sama di Desa Ujungbatu itu. Bahkan rumah-rumah mereka tidak membelakangi, namun menghadap langsung ke Laut Jawa. Yang terdengar dari penuturannya hanya harapan agar ombak tak menerjang lebih ganas. (Muhammadun Sanomae-15n) |