logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Desember 2005 KEDU & DIY
Line

Warga Margorejo Rintis Konservasi Lingkungan

YOGYAKARTA - Warga Desa Margorejo, Tempel, Sleman, DIY, belum lama ini bergotong royong melakukan konservasi lingkungan, tanaman dan hewan, secara bersamaan untuk meningkatkan kesejahteraan. Mereka menanami lahan kosong dengan berbagai bibit tanaman, seperti durian, manggis, dan rambutan. Harapannya, kelak konservasi tersebut bisa memperkuat perekonomian desa.

Seorang warga setempat, Y Sunarto mengungkapkan, konservasi, pemulihan lahan, akan lebih bermanfaat apabila dibarengi dengan pengembangan ekonomi. Karena itu, lahan-lahan kosong yang selama ini seolah-olah tidak berguna sebaiknya ditanami dengan pohon yang secara ekonomis bisa meningkatkan perekonomian rakyat. ''Konservasi tidak akan berhasil, kalau rakyat susah hidupnya dan tak bisa menikmati hasilnya,'' tandas Sunarto yang juga telah menggagas konservasi untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat itu.

Dia menjelaskan, ada 115 keluarga di Dusun Ngamboh, Margorejo, yang masing-masing menanam dua sampai lima bibit pohon produktif. Tidak hanya di lahan kosong, tetapi juga di jalan-jalan kampung. Mereka berharap, tiga tahun mendatang sudah bisa menikmati hasilnya.

Secara berkala, seminggu sekali penduduk membersihkan aliran sungai tersebut. Pasalnya, sungai bakal digunakan untuk perikanan rakyat. Ribuan bibit ikan disebar di aliran sungai itu.

Kembangkan Ternak

Mereka semakin melangkah maju melalui rembuk desa, dan sepakat mengembangkan peternakan. Ada yang mencoba beternak sapi dan kambing, serta ada pula yang kelinci. Bibit ternak juga diupayakan sendiri oleh warga. Memang tidak bisa serentak, namun pelan-pelan.

Kepala Dusun Ngamboh, Sudiarto, mengungkapkan upaya konservasi bersama warga dimulai sejak dini. Bermula dari hal-hal kecil, misalnya tidak membuang sampah dan hajat di sungai. Air sungai yang bersih bisa lebih bermanfaat.

''Saran untuk tidak membuang hajat dan sampah di sungai, harus dibarengi dengan pemecahannya. Salah satu cara adalah, memberi pinjaman uang tanpa bunga kepada warga untuk membuat fasilitas mandi cuci kakus (MCK),'' paparnya.

Bersamaan dengan konservasi lahan, warga melakukan pelepasan sejumlah jenis burung ke alam bebas. Mereka menyadari, dari waktu ke waktu satwa yang ada di alam berkurang. Harus ada upaya perlindungan dan pengembangbiakan. (D19-39a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA