logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Desember 2005 KEDU & DIY
Line

Tanah Ambles, 31 Rumah Retak-Retak

  • Sebagian Dikosongkan

KEBUMEN- Sebanyak 31 rumah warga Dusun Tinatah, Desa Wonokromo, Kecamatan Alian, Kebumen, saat ini mengalami retak-retak akibat tanah bergerak.

Bahkan, beberapa rumah dikosongkan karena kondisinya mengkhawatirkan. Kondisi paling parah menimpa rumah RT 4, 5, 6, dan 7 RW 3 Dusun Tinatah, yang berdekatan dengan aliran Sungai Curuk, Desa Wonokromo. Paling tidak 15 rumah penduduk sebagian sudah miring, lantainya merekah, dan tembok atau dindingnya retak-retak.

Menurut sejumlah warga, tanah bergerak itu dirasakan sejak beberapa tahun terakhir. Saat musim kemarau tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun tiap memasuki musim hujan dan curah hujan tinggi seperti sekarang, warga makin waswas.

''Tiap malam kami tidak bisa tidur,'' tutur Malinah (45), yang seluruh lantai dan dinding rumahnya merekah serta retak-retak.

Mad Soleh (65), warga lainnya menuturkan, semakin hari kondisi rekahan tanah itu terlihat kian melebar. Bahkan, telihat tanah ambles di pekarangan dan tegalan rata-rata 20-40 cm. Di pekarangan rumah yang umumnya miring itu, juga terlihat rekahan dan geseran tanah.

Sekdes Wonokromo, Suwarno ditemui di Dusun Tinatah mengakui, tanah bergerak di desanya mulai terlihat sejak sekitar tiga tahun lalu. Hal itu terutama setelah aktivitas penambangan batu kali di bawah permukiman warga untuk bahan fondasi dan bangunan makin intensif.

Tebing Longsor

Hal itu juga dibenarkan oleh Mad Soleh. Dia menuturkan, tatkala muda sepanjang aliran sungai di bawah permukiman itu masih banyak palung sungai dan dasar sungai juga belum tampak. Namun setelah batu-batu sungai terus diambil, kini dasar sungai dari batu cadas makin kelihatan.

Yang makin mengkhawatirkan warga, tebing sungai sepanjang radius sekitar satu kilometer juga terus longsor. Beberapa rumah warga yang berjarak kurang dari 10 meter kini berangsur dipindah atau digeser.

Eko Purwanto, relawan PMI Cabang Kebumen menuturkan, struktur tanah Desa Wonokromo agak mirip dengan Dusun Sambeng, Desa Seling, Kecamatan Karangsambung, yang pernah dilanda tanah bergerak. Bedanya, penyebab tanah bergerak dan ambels di Desa Seling murni struktur tanah.

''Melihat tanah yang ambles dan bergerak di Dusun Tinatah ini arahnya ke bawah atau ke sungai. Kemungkinan akibat penambangan batu sungai yang terus-menerus,'' ujar relawan PMI yang juga warga Desa Seling itu didampingi Kepala Markas PMI, Heru Wardoyo.

Tanah bergerak di Desa Wonokromo tersebut kini juga mengancam sebuah jembatan desa yang fondasinya ambles. Bahkan, fondasi yang ambrol itu nyaris putus dan bila tak segera ditangani mengancam terputusnya jembatan yang menghubungkan Kecamatan Alian dan Padureso serta Wadaslintang, Wonosobo.

Hujan lebat beberapa hari ini juga menyebabkan dua rumah ambruk di Dusun Kemulyan, Desa Padureso, Kecamatan Padureso. Empat rumah di Desa Tanjungsari, Kecamatan Buluspesantren di tepian Sungai Luk Ulo pun terancam longsoran tanah.(B3-39s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA