logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 RAGAM
Line

Bayi Tabung Berisiko Cacat Bawaan

WALAUPUN prosedurnya sudah rutin, bayi tabung memiliki risiko cacat bawaan lebih besar dibanding bayi normal. Diduga proses injeksi sperma dan tidak adanya unsur kimia pembantu, menyebabkan meningkatnya risiko kecacatan.

Pada tanggal 26 Juli tahun 1978, dunia dikejutkan dengan lahirnya bayi tabung pertama, Louise Brown di Oldham, Manchester Inggris. Setelah itu, kelahiran bayi tabung menjadi sesuatu yang rutin. Dalam 25 tahun ini, sedikitnya telah lahir satu juta bayi hasil inseminasi dalam tabung reaksi. Di Jerman, setelah lahirnya bayi tabung pertama pada tahun 1982, prosedur pembuatan bayi tabung kemudian juga sudah dianggap rutin. Sekarang, setiap tahunnya di Jerman saja dilakukan sekitar 400.000 kali inseminasi dalam tabung. Tahun 2001 lalu, di Jerman tercatat kelahiran 10.000 bayi tabung.

Cacat Bawaan

Akan tetapi, yang kini menjadi perhatian para ahli kedokteran reproduksi, bukan lagi prosedur pembuatan bayi tabung. Melainkan kekhawatiran akan risiko cacat bawaan pada bayi tabung. Penelitian di 95 rumah sakit yang melayani inseminasi buatan menunjukan, risiko bayi tabung menderita penyakit keturunan yang merugikan, 1,25 kali lebih tinggi dari bayi yang dibuahi secara normal. Penelitian para ahli di pusat penelitian dan pengembangan nasional Finlandia di Helsinki, menunjukan risiko lebih tinggi, yakni 1,4 kali lipat.

Penelitian oleh petugas catatan kelahiran di kota Mainz di Jerman menunjukan jika cakupan penelitian diperkecil misalnya hanya untuk satu kota, maka tingkat risiko kelahiran bayi tabung dengan cacat bawaan meningkat menjadi 300 persen. Cacat bawaan yang paling sering muncul antara lain, bibir sumbing dan celah langit-langit, down syndrome, terbukanya kanal tulang belakang, serta kegagalan jantung, ginjal dan kelenjar pankreas. Selain itu juga diamati penyakit keturunan yang resesif lebih sering muncul pada bayi tabung.

Sindrom Beckwith-Wiedemann

Dilaporkan, semakin sering muncul penyakit keturunan yang langka seperti misalnya sindrom Beckwith-Wiedemann, yakni berupa bayi yang lahir kelebihan berat badan, serta organ dalam tubuh yang terlalu besar. Di Amerika Serikat, risikonya dilaporkan enam kali dari normal, sementara di Inggris risikonya empat kali lebih besar dibanding bayi yang dibuahi normal. Bayi dengan sindrom Beckwith-Wiedemann biasanya juga memiliki lidah yang terlalu besar, yang kadang-kadang keluar melebihi mulutnya. Untuk memungkinan bayi dengan kelainan ini dapat berbicara, dokter biasanya melakukan operasi pengecilan lidah.

Injeksi Sperma

Inseminasi buatan atau bayi tabung, ibaratnya sekeping mata uang yang memiliki dua sisi. Bagi keluarga yang tidak memiliki kemungkinan memperoleh bayi secara alamiah, bayi tabung adalah berkah teknologi yang dihormati. Sementara di sisi lain, juga terdapat risiko lebih tinggi, memperoleh keturunan dengan cacat bawaan. Karena itu, para ahli dan peneliti kedokteran reproduksi, kini terus berusaha mencari penyebab kecacatan tersebut. Salah satu yang dicurigai sebagai penyebabnya adalah prosedur injeksi sperma ke dalam sel telur.

Penelitian yang dilakukan Bernhard Horstemke, peneliti dari institut untuk genetika manusia di Universitas Essen di Jerman, bekerjasama dengan peneliti dari AS, menunjukan adanya kaitan antara injeksi sperma dengan cacat bawaan pada bayi tabung. Dalam pembuahan normal, antara 50.000 sampai 100.000 sel sperma berlomba membuahi satu sel telur. Dalam pembuahan normal berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin. Yakni yang paling kuat dan sehat yang akan menang.

Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas laboratorium. Jadi bukan berdasarkan sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas laboratorium berpengalaman dapat memisahkan mana sel sperma yang kenampakannya sehat dan mana yang tidak. Akan tetapi, kerusakan genetika, lazimnya memang tidak kelihatan dari luar.

Dengan menggunakan pipet mikro, satu sel sperma yang dipilih, diinjeksikan ke sel telur yang sudah disiapkan dalam tabung percobaan. Dengan cara itu, risiko mendapat sel sperma yang secara genetis tidak sehat, menjadi cukup besar. Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara genetis tidak sehat para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan menentukan. Manipulasi pada saat injeksi sperma, merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan genetika.

Enzym Akroson

Secara alamiah, sperma sudah dilengkapi enzym bernama Akroson, yang berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur. Dalam proses pembuahan secara alamiah hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur. Sementara dalam proses inseminasi buatan dengan prosedur injeksi sel sperma, enzym Akroson yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam inti sel telur.

Pengalaman selama 25 tahun menunjukan, pembuahan akan terhambat selama enzym Akroson ini belum terurai. Selain itu, prosedur injeksi sperma memiliki risiko melukai bagian dalam sel telur yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom. Memang terdapat metode untuk mencegahnya akan tetapi tidak sepenuhnya menutup risiko.

Unsur Kimia Pembantu

Selain itu, risiko cacat bawaan ternyata tidak hanya terjadi pada metode inseminasi injeksi. Pada inseminasi sederhana di tabung reaksi juga kerapkali terjadi proses yang menimbulkan kecacatan. Penyebabnya, di dalam tabung reaksi tidak ada berbagai sinyal dan protein pembantu seperti di dalam saluran dan indung telur.

Pada pembuahan alami sel telur yang sudah dibuahi, bergerak melalui saluran telur menuju rahim, mendapat bantuan sejumlah sinyal protein. Molekul protein gula memperbesar daya lekat calon embryo di dinding rahim. Sejumlah protein juga membantu proses kompaksi, yakni mengikat masing-masing sel embryo yang sebelumnya longgar, menjadi gumpalan lebih padat.

Proses kompaksi amat penting dalam perkembangan embryo. Selain itu diperkirakan sel-sel di saluran telur melakukan proses pembersihan racun untuk melindungi kawasan rahim dari serangan oksigen radikal yang merugikan. Ujicoba untuk meniru atmosfir di dalam rahim yang dilakukan pada sel telur binatang percobaan yang dibuahi dalam tabung tidak menunjukan sukses seperti yang diharapkan.

Namun berbagai risiko itu, tidak menyurutkan semangat para ahli reproduksi, untuk tetap melakukan pembuahan buatan bagi para wanita yang mengalami kesulitan hamil secara alamiah. Juga calon orang tua tetap pantang mundur untuk mendapat anak dengan cara apa pun, serta dengan menghadapi risiko apa pun. Sebab, diyakini alam pasti menerapkan aturannya tidak pandang bulu.

Selain itu dalam kenyataan, hanya sedikit bayi tabung yang menunjukan cacat bawaan secara mencolok. Sebagian besar tumbuh normal tanpa kelainan yang ditakutkan. Sekarang tantangan bagi para ahli reproduksi, adalah, melakukan pembuahan buatan lebih baik lagi, dengan kesalahan minimal agar tidak terjadi cacat bawaan. Semua sudah menyadari di dunia ini memang tidak ada yang sempurna. (Aria/dwelle.de-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA