| Senin, 19 Desember 2005 | PANTURA |
Sekolah Enggan Gunakan Lapangan Sorogenen
PEKALONGAN - Beberapa sekolah kini enggan menggunakan lapangan Sorogenen Kota Pekalongan untuk aktivitas olahraga. Pasalnya, lapangan itu dalam kondisi rusak dan masih menyisakan bekas-bekas pecahan bangunan fondasi yang dikhawatirkan membahayakan anak-anak. Persatuan Guru Pendidikan Jasmani (Pegas) meminta Pemkot untuk segera memperbaiki lapangan tersebut. Menurut Ketua Pegas Drs Bayu Hanura, kerusakan lapangan menjadi perhatian guru olahraga dari SD sampai SMA/SMK di sekitar Sorogenen. Keengganan siswa memanfaatkan lapangan tersebut kali ini diawali dari kebijakan Pemkot yang menggunakan lapangan yang sama sebagai pasar darurat Banjarsari. Hal itu dilakukan karena pasar sebenarnya yang berlokasi di Jl Sultan Agung saat itu sedang dibangun. Ketika Pemkot memastikan lapangan itu akan digunakan untuk pasar daurat, beberapa guru keberatan. Sebab kalau lapangan digunakan untuk pasar darurat, para siswa kesulitan mencari lapangan untuk berolahraga. Kalaupun pindah lapangan, akan memerlukan waktu tersendiri untuk menuju ke lokasi. Protes itu akhirnya mendapat tanggapan. Pemkot pun menyanggupi mengembalikan keadaan lapangan seperti semula jika bangunan Pasar Banjarsari sudah jadi dan pedagang sudah kembali ke tempat asalnya. Artinya fungsi lapangan tetap tidak berubah yakni untuk olahraga. Kenyataannya? Sekarang setelah pedagang yang berjualan di pasar darurat kembali ke lokasi pasar lama, keadaan lapangan tidak kembali seperti semula. Pemkot ketika itu sudah memerintahkan investor untuk memperbaiki lapangan tersebut. Namun kenyataannya bekas bangunan fondasi kios hanya dihancurkan tanpa dibuang ke luar lapangan. Bekas Pecahan Bekas pecahan bangunan itu diuruk tanah sehingga sepintas bekas bangunan tidak terlihat lagi. Namun sekarang setelah musim hujan tiba, bekas pecahan bangunan itu mulai kelihatan lagi sehingga siswa yang melihat hal itu tak mau berolahraga di lapangan tersebut. Mereka terpaksa mencari lapangan lain atau berolahraga yang tidak menggunakan lapangan. Kabag Arsip Pemkot Drs Chaeruddin Aslam mengaku hanya menangani lapangan itu setelah diserahkan dari Dinas Pengelolaan Pasar. Kalau kemudian beberapa sekolah mempermasalahkan bahwa lapangan itu tak bisa difungsikan, itu akan menjadi masukan untuk disampaikan kepada atasan. ''Yang jelas, kami sudah komitmen bahwa lapangan itu fungsinya untuk kegiatan olahraga bagi masyarakat. Karena itu, meski beberapa investor sempat menghubungi pihaknya untuk menggunakan sebagian tanah lapangan untuk kegiatan usaha, dia menolaknya. Kami tetap akan mempertahankan lapangan itu untuk olahraga,'' tegasnya. Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Drs Harrie Pudjiraharjo yang dimintai konfirmasi membenarkan bahwa lapangan tersebut kini tidak layak lagi untuk tempat olahraga anak-anak sekolah. Bekas pecahan fondasi masih banyak di tengah lapangan sehingga membahayakan siswa. Karena itu, lanjut dia, wajar jika siswa tak mau memanfaatkannya untuk berolahraga. (A15-61n) |