logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 PANTURA
Line

Jambore Mewarnai 1.000 Anak

Anak Berlomba, Orang Tua Ikut Kerepotan

SRI RATU Mega Center Pekalongan, Minggu (18/12), seolah-olah berubah menjadi taman kanak-kanak (TK). Lebih dari seribu anak yang rata-rata berusia 4-8 tahun memadati ruangan depan yang biasa digunakan untuk etalase produk dagangan.

Mereka yang hampir semuanya ditunggui orang tua atau keluarganya itu berkumpul di tempat tersebut sebagai peserta jambore mewarnai 1.000 anak.

Meski aktivitas mewarnai gambar yang dilombakan tidak mengeluarkan suara, suasana di ruangan tetap saja ramai. Meski sudah diberi aturan bahwa lomba itu dibatasi waktu, harus tertib dan rapi, mereka tak peduli. Tidak sedikit peserta lomba mewarnai itu yang malah bermain. Krayon yang seharusnya mereka gunakan untuk mewarnai malah dilempar-lemparkan.

Sebagian lainnya bergurau dengan teman-temannya, padahal peserta lain sudah mulai mewarnai. Tak heran jika akhirnya orang tua yang menungguinya terlihat sibuk.

''Aduh, kalau nungguin anak berlomba ya begini. Mereka yang lomba, malah kita yang sibuk,'' tutur Ani (40), salah satu orang tua peserta.

Dia tampak kerepotan mengarahkan anaknya yang hanya bermain dan tidak mau mengikuti kegiatan. ''Setelah hampir seperempat jam saya mengarahkan, akhirnya dia mau mewarnai juga. Padahal di rumah dia paling rajin mewarnai,'' tandas warga Podosugih tersebut.

Hal senada juga dikatakan Tati (35), warga Medono, Pekalongan. Dia mengaku harus sabar mengarahkan anaknya.

''Baru beberapa menit dia sudah minta jajan, terus ke belakang. Kita harus sabar, Mas,'' paparnya.

Terbesar di Pekalongan

Mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan memang tidak mudah. Trisno Heru Utomo (30), salah satu panitia acara tersebut menyatakan hal itulah yang menjadi salah satu alasan diadakannya lomba tersebut.

''Kagiatan ini adalah yang terbesar jumlah pesertanya dari kegiatan serupa yang pernah digelar di Pekalongan,'' tutur dia yang juga Sekretaris Target Entertainment, pemrakarsa kegiatan itu.

Dia menolak jika kegiatan seperti itu hanya dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. ''Kami punya komitmen untuk memupuk prestasi dan bakat seni anak-anak sejak dini,'' ujar pengajar seni rupa di berbagai TK di Pekalongan tersebut.

Untuk itu, pihaknya juga menggandeng peserta dari berbagai daerah seperti Batang, Pemalang, Tegal, dan Purwokerto agar persaingan lebih kompetitif. Selain itu, juri yang didatangkan adalah para praktisi seni di antaranya Ketua Komisi Seni Rupa Jawa Tengah Tri Bado dan Ketua Komunitas Pelukis Pantura Haris Riyadi.

Kegiatan yang sepintas hanya untuk rekreasi seperti itu, kata Haris, tidak boleh diremehkan. Sebab, banyak pelukis berbakat di Jakarta yang dimulai dengan mengikuti ajang seperti itu. ''Jadi, berbagai pihak, khususnya dewan kesenian, seharusnya tidak kalah dari pihak swasta untuk mencari bibit-bibit seniman,'' tandasnya. (Muhammad Burhan-61n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA