| Senin, 19 Desember 2005 | PANTURA |
Atap Teras SD Clapar AmbrolBATANG - Atap teras satu lokal yang terdiri dari dua ruang kelas SD Clapar, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, ambrol, kemarin. Untuk sementara kegiatan belajar mengajar murid kelas I dan II yang menempati ruang tersebut akan dipindah ke rumah penduduk, sedangkan ruang guru di TK Melati. Menurut Kepala SD Clapar, Th Ali Wahyurini SPd, bangunan atap teras ambrol sekitar pukul 03.00, Minggu (18/12), saat hujan deras. "Atap ambrol akibat kayunya lapuk, sehingga tidak mampu menahan hujan," kata dia, yang biasa dipanggil Bu Rini disela-sela menyingkirkan reruntuhan bangunan. Beruntung, saat peristiwa tersebut tidak terjadi kegiatan belajar mengajar, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Saat ini, jumlah keseluruhan murid di SD Clapar 102 anak. Kelas I ada 17 murid dan kelas II ada 12 anak. Namun, melihat bangunan atap yang runtuh itu, akhirnya Dewan Guru dan Komite Sekolah memutuskan untuk mengosongkan ruangan. Alasannya, gedung yang dibangun tahun 1978 itu, konstruksi kayu bagian atap kelas sudah membahayakan. Sebenarnya, usulan untuk perbaikan gedung, yang terletak di sebelah selatan jalur pantai utara (pantura) itu, sudah dilakukan berulang kali. Hampir setiap tahun, proposal untuk rehabilitasi dikirimkan, tapi tidak pernah ada jawaban. "Saya sudah mengusulkan, baik lisan maupun tertulis, agar lokal diperbaiki, tapi belum pernah ada tanggapan. Kami memakluminya, mungkin karena banyak gedung SD yang harus diperbaiki. Namun, sebelum SD Clapar mendapat kesempatan, malah sudah ambrol duluan," tutur kepala sekolah, yang juga penyanyi itu. Kali Ketiga Dia menuturkan, sebenarnya ambrolnya atap gedung itu adalah peristiwa ketiga kalinya di SD Clapar. Pertama tahun 1993, yakni, ruangan kepala sekolah dan guru. Disusul lokal empat kelas tahun 1997, kemudian diperbaiki. "Bahkan, ruang kepala sekolah dan guru, sejak ambrol tidak dibangun kembali dan tinggal tanah yang sudah rata," ungkapnya. Karena tidak ada ruangan, selanjutnya untuk ruang kepala sekolah dan guru menempati lokal barat, yang sebenarnya untuk kelas I dan II. "Ini sebenarnya ruang kelas II, karena kami tidak mempunyai ruang, dengan terpaksa dijadikan tempat kerja teman-teman," tutur Rini. Usulan perbaikan SD Clapar, yang sudah dilakukan berulangkali itu, dibenarkan oleh Sujarno SPd, yang dulu pernah bertugas di sekolah itu. "Melihat bekas atap teras yang ambrol, kami perkirakan kondisi atap di kelas juga banyak yang rapuh. Karena itu, kami sepakat dengan Dewan Guru, mulai Senin ruangan ini dikosongkan dan anak-anak untuk sementara menumpang di rumah penduduk," ujar Ketua Komite SD, Wahyudi. Dia berharap, pemerintah segera memperbaiki kembali. Selain itu, tidak hanya rehabilitasi atap lokal, tapi juga pembangunan ruang kepala sekolah dan guru diwujudkan kembali. "Idealnya, guru mempunyai ruang tersendiri, tidak menggunakan ruang kelas," kata Kades Clapar itu. Hal senada juga dikatakan Ketua PGRI Cabang Subah, Sukaryo SPd, yang meminta segera dilakukan perbaikan, sehingga kegiatan belajar mengajar kelas I dan II tidak terganggu. Apalagi, untuk sementara kegiatan belajar mengajar murid kelas I dan II akan menumpang di rumah penduduk. Ka Dinas Pendidikan melalui Kasubdin TK dan SD, Drs Kustono, yang dihubungi melalui telepon seluler, di sela-sela mengikuti rapat di Jakarta, menyatakan, pihaknya akan mengusahakan perbaikan. "Kami mengusahakan tahun depan diperbaiki." (ar-52h) |