logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 PANTURA
Line

160 Hektare Lahan Mangrove Rusak Berat

  • 535 Ha Kondisinya Baik

BREBES - Sejumlah 160 hektare lahan mangrove di Kabupaten Brebes saat ini dalam kondisi rusak berat. Sementara, sekitar 320 hektare mengalami rusak ringan, dan yang masih dalam kondisi baik 535 hektare.

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan, ekosistem mangrove terdapat di lima kecamatan di sepanjang pantura, yaitu Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung, dan Losari.

Menurut Kasubdin Perikanan Darat, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten, Slamet, kerusakan ekosistem mangrove menyebabkan rusaknya ekosistem yang lain, termasuk ratusan hektare tambak udang windu.

Pasalnya, selain lokasi tambak terkena abrasi akibat rusaknya mangrove, kualitas air juga menurun.

Dalam 15 tahun terakhir, produksi udang windu di Brebes terus mengalami penurunan.

Slamet mengemukakan, keberadaan mangrove di sekitar tambak sangat penting. Selain sebagai pelindung, juga merupakan bagian dari daur kehidupan ikan.

Daun dari tanaman mangrove yang jatuh ke tambak akan mengalami pembusukan yang mendukung berkembangbiaknya budi daya ikan darat.

Untuk mengatasinya, perlu dilakukan upaya rehabilitasi secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh pihak.

Sebab, apabila abrasi tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan semakin meluas dan mengenai rumah warga yang ada di sekitar pantai.

Sementara itu, menurutnya, untuk memberikan kelangsungan hidup bagi para petani tambak, saat ini pihaknya menggalakkan budi daya bandeng dan rumput laut.

Kedua komoditas tersebut dinilai masih menguntungkan, terutama rumput laut. Bahkan dalam jangka panjang, rumput laut dapat memperbaiki kualitas air karena mampu menyerap unsur-unsur organik yang berlebihan. Budi daya rumput laut juga relatif lebih mudah dan murah, dengan nilai jual cukup tinggi.

Hingga saat ini, pihaknya sudah mengembangkan budi daya rumput laut di dua tempat yaitu Kelurahan Randusanga Kulon dan Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes.

Budi daya rumput laut di Randusanga Kulon meliputi luas lahan 12 hektare, sedangan di Kaliwlingi seluas 25 hektare. Rencananya tahun depan, areal budi daya rumput laut akan diperluas lagi, hingga mencapai ratusan hektare.

Sementara itu, Kasubdin Kehutanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Eko Andalas, mengatakan, rehabilitasi kawasan pantai dengan penanaman hutan mangrove terakhir dilakukan pada tahun 2004.

Dalam rehabilitasi tersebut ditanam sebanyak 2,09 juta pohon di lahan seluas 500 hektare.

Eko menjelaskan, dari jumlah tanaman mangrove yang ditanam, saat ini hanya tersisa 70 persen atau sekitar 1.155 batang. Sekitar 30 persen lainnya sudah hilang. Hal itu di antaranya akibat masih kurangnya kesadaran dari masyarakat yang berada di sekitar pantai untuk ikut merawat. Bahkan, tidak jarang mereka justru menebangi pohon mangrove yang telah tumbuh.

Oleh karena itu, menurut Eko, selain upaya penanaman kembali, perlu juga diadakan sosialisasi mengenai pentingnya keberadaan hutan mangrove di tepi pantai untuk menghindari abrasi. Dengan demikian, bantuan dari pemerintah tidak akan sia-sia.

Direncanakan, pada tahun 2006 akan dilakukan kembali penanaman tanaman mangrove untuk lahan baru seluas 500 hektare.

Upaya tersebut akan melibatkan berbagai komponen masyarakat, di antaranya penduduk sekitar pantai dan lembaga swadaya masyarakat. Diperkirakan jumlah tanaman mangrove yang dibutuhkan mencapai 2,05 juta batang. Saat ini, sudah dipersiapkan sekitar tiga juta pohon. (H17-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA