logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 PANTURA
Line

Pendapatan Pemulung Degayu Rp 20 Ribu/Hari

MESKI badannya kotor, para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Degayu Kota Pekalongan tidak malu berada di hadapan beberapa pejabat. Padahal, siang itu mereka bertemu pengurus Darma Wanita (DW) Persatuan Kota Pekalongan untuk menerima bingkisan, dalam rangka ulang tahunnya yang keenam.

Di antara pemulung, ada yang pakaiannya lusuh karena terkena sampah saat mereka mencari barang-barang bekas yang dikumpulkan untuk dijual. Bahkan, tidak sedikit yang wajahnya masih kotor terkena sampah.

Baunya pun, cukup menyengat. Namun mereka tak peduli dengan tetap ikut antre menemui pengurus DW untuk mendapatkan bingkisan.

Kemarin memang merupakan hari yang menggembirakan bagi pemulung di TPA Degayu. Pasalnya, mereka mendapatkan bingkisan dari DW berupa beras dan mi instan serta pakaian pantas pakai.

Itu dilakukan hampir setiap tahun oleh pengurus DW dalam rangka memperingati ulang tahun organisasinya.

Penyerahan bingkisan dilakukan Ketua DW Ny Urip Sunaryo dan didampingi Ketua Panitia Ny Parwoto, Ny Feizal, Ny Masrof, dan beberapa pengurus lainnya.

Tambahan bingkisan itu disambut hangat para pemulung karena dianggapnya membantu meringankan bebannya. Menurut beberapa pemulung, meski mereka sudah banting tulang mengais rezeki, hasil yang diperolehnya tidak seperti yang diharapkan.

"Kini, dalam sehari kami hanya mendapatkan penghasilan antara Rp 15 ribu dan Rp 20 ribu. Kami terpaksa mengerahkan anggota keluarga untuk bisa mendapat tambahan pendapatan. Istri saya ajak membantu mencari sampah plastik," kata Ketua Paguyuban Pemulung TPA Degayu Wahyudi (45).

Ditemui Suara Merdeka di sela-sela menerima bingkisan, Wahyudi menjelaskan, sampah yang dicari kini tidak sebanyak tahun-tahun lalu. Dari sampah satu truk, hanya sedikit yang bisa dimanfaatkan.

"Ini disebabkan banyak orang mencari sampah di tempat-tempat penampungan awal. Bahkan, petugas sampah pun sering mengambil lebih dulu untuk dijual kepada pemulung. Akibatnya, pemulung hanya kebagian sisanya," ucap Wahyudi.

Dia menjelaskan, anggota pemulung di Degayu kini mencapai 117 orang. Dari sejumlah itu, sebagian anak-anak yang membantu orang tuanya.

"Ini dilakukan karena keadaan yang memaksa," ujarnya.

Dia sendiri mengaku, sebelum menjadi pemulung bekerja sebagai buruh tani di desanya, Sidorejo, Slamaran, Kota Pekalongan. Namun karena sawah di sekitarnya makin sempit dan tanah pantai tidak bisa ditanami padi, maka dia beralih sebagai pemulung. "Jadi pemulung justru bisa mendapatkan pekerjaan tetap. Sebab, tidak pernah truk sampah diliburkan," tuturnya.

Kabid Kebersihan dan Pemeliharaan Dinas Penataan Kota dan Lingkungan Hidup (DPKLH) Drs Suprapto menjelaskan, volume sampah yang dibuang ke TPA diperkirakan mencapai 630 m3/hari. Jumlah itu diangkut oleh 14 truk dan beberapa mobil kijang milik DPKLH maupun Dinas Pengelolaan Pasar.

Ada dua lokasi pembuangan sampah yang disiapkan, yakni untuk zona I (bagian utara) seluas 6.400 m2 dan zona II (bagian selatan) seluas 8.000 m2.

Untuk zona I ketinggian sampah sudah mencapai 4 m sedangkan zona II mencapai 3 meter. "Proses pengolahannya sampah dengan cara ditumpuk dan setelah tebal diuruk tanah.

Setelah tinggi, sampah dibiarkan membusuk, sehingga lama-lama sampah menjadi tanah. Sejak itu, tanah bisa diambil lagi untuk uruk." (Trias Purwadi-54)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA