| Senin, 19 Desember 2005 | NASIONAL |
Ponpes Multiagama Soko TunggalMeningkatkan Kerukunan Antaragama
SEMARANG - Bertolak dari misi menjaga kesatuan bangsa dan kerukunan hidup antarumat beragama, Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama (Forkhagama) mendirikan pesantren multiagama Bhinneka Tunggal Ika. Bertempat di Pondok Pesantren Soko Tunggal Jl Sendangguwo Raya, Sabtu petang kemarin, pemancangan Prasasti Deklarasi Soko Tunggal ditandatangani Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tokoh-tokoh agama yang turut menandatangani prasasti berasal dari agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, dan Khonghucu. Selain Gus Dur, hadir mantan Pangdam IV Diponegoro Jendral TNI Tyasno Sudharto yang mewakili umat Islam serta perwakilan dari China dan Korea. Menurut Gus Dur, pesantren tersebut diharapkan bisa memberikan kebaikan bagi masa depan bangsa. "Yang terpenting, menjaga kerukunan antaragama itu tugas semua agama tanpa pandang bulu. Jangan lagi membeda-bedakan agama, ras maupun kesukuan agar negara bisa maju," paparnya. Gus Dur yang diangkat sebagai Bapak Tionghoa Indonesia itu berharap semua pihak bisa membantu menyukseskan pembangunan pesantren, agar tercipta kerukunan dan antarumat beragama tidak saling melakukan intervensi. Persatuan Menurut Ketua Forkhagama KH Nuril Arifin atau yang biasa disebut Gus Nuril, pesantren didirikan dengan tujuan menciptakan persatuan di Indonesia. Pesantren multiagama itu akan dibangun di atas tanah seluas 9.000 m2 di Kelurahan Purwosari, Mijen yang merupakan tanah wakaf Gus Nuril. Rencananya, di kompleks itu akan didirikan rumah zikir, mandala-mandala, dan tempat berdoa sesuai dengan agama masing-masing. Di tengah pesantren yang berada tak jauh dari tempat wisata Sodong itu, akan dibangun sebuah hall yang akan digunakan untuk pertemuan antarumat beragama. Dia berharap, pembangunan masing-masing tempat ibadah bisa diselesaikan bersama-sama. "Kami berharap, agama yang memiliki dana besar bisa membantu pembangunan tempat ibadah yang lain sehingga tidak terjadi ketimpangan,"ungkapnya. Dengan pembangunan tersebut, Gus Nuril berharap tercipta kebersamaan antarumat tanpa intervensi dari masing-masing agama yang ada di Indonesia. Gus Nuril mengatakan, pembangunan pesantren sangat penting untuk menghindarkan diri dari skenario Amerika Serikat yang berusaha memecah belah Indonesia menjadi 27 negara. Salah satu cara yang dipakai Amerika adalah mengadu domba antarumat beragama. "Selama ini yang terjadi, orang-orang Tionghoa selalu menjadi korban. Pesantren ini akan menjadi monumen internasional karena merupakan satu-satunya di dunia. Dengan demikian, kita bisa menunjukkan kerukunan antarumat pada sesama maupun dunia," tandasnya. Selama ini, friksi-friksi antaragama muncul karena tidak ada kesepahaman di antara umat beragama itu sendiri. Dalam waktu dekat, tokoh-tokoh Forkhagama akan mengunjungi China, Korea, dan Jepang atas permintaan umat beragama dari negara-negara tersebut. Menurut Gus Nuril, hal itu menunjukkan bahwa dunia mempunyai kepedulian besar terhadap kerukunan umat di Indonesia. (sjs-11m) | ||||