| Senin, 19 Desember 2005 | NASIONAL |
Gema Gedung BerlianReses, DPRD Diharapkan Serap Aspirasi PetaniDI pengujung tahun ini, anggota DPRD Jawa Tengah kembali reses. Reses tahap ketiga pada tahun anggaran 2005 akan dilakukan mulai hari ini sampai Sabtu (24/12). Wakil rakyat akan menyerap aspirasi di daerah pemilihan (DP) masing-masing. Berbagai persoalan yang begitu kompleks sekarang sedang dirasakan masyarakat. Terutama masalah imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, para wakil rakyat tersebut harus jeli merekam segala persoalan yang dihadapi konstituennya. Sejumlah persoalan seperti ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) kaum buruh, pertanian, kesehatan, pendidikan, bantuan aspal yang terbengkalai, pemerintahan di daerah, dan berbagai persoalan lain juga telah menunggu. Di sisi lain, dengan anggaran reses yang cukup besar, masyarakat tentu berharap agenda reses itu benar-benar mampu memperjuangkan aspirasi rakyat. Anggaran reses tahap ketiga ini Rp 11 juta untuk setiap anggota Dewan. Dengan dana sebesar itu, wakil rakyat harus pintar-pintar menyerap aspirasi, kalau tidak ingin pengeluaran anggaran itu sia-sia belaka. Sekretaris Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) Mohammad Syahir menyatakan, paling tidak pihaknya akan menggelar dua kali pertemuan di DP X (Batang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Pemalang). ''Pertemuan pertama bersama dengan para anggota FPPP DPRD di kabupaten/kota tersebut. Sekitar 30 orang yang kami undang,'' tutur dia. Menurut Syahir, bersama anggota FPPP DPRD Jateng lainnya, yakni Imam Munajat, dan seorang anggota FPPP DPR RI akan digelar pula pertemuan dengan para konstituen di DP tersebut. ''Paling tidak pertemuan kedua mengundang 100 orang konstituen,'' ungkapnya. Adapun Sekretaris Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPRD Jateng Umar Hasyim juga akan mengumpulkan sekitar 100 konstituen di wilayah Surakarta dan sekitarnya. ''Barangkali salah satu tema yang akan muncul menyangkut masalah sarana transportasi dan kenaikan harga pupuk serta beras,'' kata Ketua DPD PAN Surakarta itu. Tidak Dinaikkan Para petani di wilayah Sukoharjo mengaku resah atas rencana harga pupuk di tingkat eceran akan dinaikkan mulai tahun 2006. ''Saya lihat di berbagai media, rencananya harga pupuk di tingkat eceran dinaikkan maksimal 20% pada awal tahun 2006,'' kata Mardi (40), petani di Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto. Kalau rencana tersebut benar-benar dilaksanakan, akan memberatkan petani. Salah satu alasan kenaikan itu untuk menyesuaikan kenaikan harga BBM. Padahal sekarang setelah kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, harga pupuk di tingkat pengecer sudah naik duluan. ''Harga satu kuintal pupuk urea sudah naik Rp 50.000 sehingga menjadi Rp 150.000 lebih,'' ungkap dia. Kenaikan ini, lanjut dia, ternyata tidak diimbangi kenaikan harga beras. Bahkan, harga beras cenderung turun. Karena itu, dia berharap anggota DPRD memperjuangkan nasib para petani yang terpuruk ini. Selama masa reses, persoalan pertanian hendaknya benar-benar diperhatikan. Setidak-tidaknya anggota Dewan juga mempunyai sikap menolak rencana kenaikan harga pupuk tersebut. Juga memperjuangkan kenaikan harga beras. Apalagi, sudah lama harga beras tidak dinaikkan.(Jamal Al Ashari-60t) |