logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 NASIONAL
Line

PDP Tolak Cap ''Sempalan'' PDI-P

SEMARANG-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Didik Supriyanto menolak anggapan sebagai partai sempalan PDI Perjuangan. Kendati banyak tokoh eks partai tersebut yang bergabung, namun pendirinya adalah eks tokoh lintaspartai.

''Platform partai ini nasionalis kerakyatan berdasarkan Pancasila. Yang membedakan dengan partai dulu (PDI-P), sistem kepemimpinannya kolektif kolegial. Ketua dan sekjen hanya pelaksana harian, keputusan ditentukan oleh rapat bersama perwakilan 31 provinsi. Ya, seperti rapat umum pemegang saham kalau di perusahaan,'' ujar Didik di sela-sela deklarasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Tengah di rumah mantan Ketua DPRD Jateng yang juga mantan tokoh PDI-P H Mardijo, Minggu (18/12).

Menurutnya, sistem yang juga dianut oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu untuk menghindari sentralisasi kekuasaan.

Dengan pembatasan demikian, kepemimpinan partai tidak akan didominasi oleh orang-orang tertentu.

Kebijakan tersebut, lanjut dia, akan berimplikasi terhadap keputusan ketua dan sekjen yang tidak bisa mengeluarkan surat rekomendasi atau ''surat sakti'' seenaknya.

Seperti pemilihan Ketua DPD Jateng, misalnya, harus diajukan ke pusat dan dibahas secara kolektif untuk selanjutnya diputuskan.

Secara tegas, dia mengakui masih tetap menganut pemikiran Bung Karno, sebagaimana partai nasionalis lain. Namun PDP juga dinilai sebagai partai religius dengan munculnya beberapa tokoh dari kalangan nahdliyyin yang terlibat.

Didik mencontohkan, beberapa mantan tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) seperti Tari Siwi dan Faturrahman.

Selain kedua tokoh tersebut, para mantan tokoh nasional partai yang tampak hadir siang itu adalah Ketua PDP Roy BB Janis, Dr Sukowaluyo, Noviantika Nasution, Abdul Qolil Ahmad, dan Mardijo.

''Jadi, partai ini sama sekali bukan sempalan dan bukan kelompok orang-orang yang sakit hati. Partai ini hanya untuk mengubah sistem yang sesuai dengan keinginan banyak orang. Lagi pula partai ini berdiri atas permintaan tokoh-tokoh di 31 provinsi yang mengadakan sarasehan nasional. Dan, jelas sifatnya terbuka,'' jelas dia.

Secara nasional, PDP dideklarasikan tanggal 1 Desember lalu. Sejumlah tokoh merupakan tokoh-tokoh yang mengikrarkan diri sebagai tokoh pembaruan saat Kongres PDI-P di Bali beberapa waktu lalu.

Para tokoh itu dikenal berseberangan dengan Ketua Umum PDI-P sekarang, Megawati Sukarnoputri.

Nama Kwik Kian Gie yang dikenal dekat dengan tim pembaruan ternyata justru tidak masuk dalam partai. (H12-29t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA