| Senin, 19 Desember 2005 | NASIONAL |
2006, Banyak Hal Tak Bisa Diprediksi
SEMARANG - Tahun 2006 diperkirakan akan sulit diramalkan. Pasalnya, menjelang tutup tahun 2005 banyak hal yang terjadi di luar dugaan, seperti musibah tsunami ataupun bom yang meledak di berbagai tempat sehingga akan berimbas pada kehidupan tahun selanjutnya. Demikian dituturkan mantan Panglima TNI Wiranto dalam Seminar Nasional ''Kajian Kritis Ekonomi dan Politik Keamanan Indonesia'' di Hotel Grand Candi, semalam. Dia mengemukakan, pada 1990-an hingga sebelum krisis 1997 mudah untuk menjawab secara tegas dan akurat mengenai prediksi kondisi nasional. Pasalnya, faktor dominan yang memengaruhinya bisa diprediksi. Namun saat ini, segala hal termasuk kehidupan masyarakat dan pola kebijakan pemerintah bisa berubah dengan cepat serta signifikan. ''Sulitnya memperkirakan apa yang terjadi pada 2006 mendorong saya untuk mengatakan, hanya Tuhan yang tahu. Siapa yang tahu adanya tsunami, siapa yang tahu adanya bom meledak. Inilah sulitnya kita memprediksi apa yang akan terjadi,'' katanya. Meski demikian, upaya untuk bisa meminimalkan harus bisa dilakukan. Tentunya pemerintah mampu mengambil keputusan yang sesuai. Dalam hal keamanan, ujar dia, pemerintah harus mampu melindungi warga negara dengan menerapkan hukum secara konsisten. Dengan demikian, mereka mampu hidup dengan rasa aman dan tenteram. Dia menyebutkan, aksi terorisme bisa saja masih menjadi ancaman negeri ini. ''Kalau faktor keamanan saja tidak bisa diprediksi, lalu bagaimana investor mau menanamkan modalnya di negara ini. Pada umumnya, investor yang masuk saat ini untuk kepentingan jangka pendek. Mereka juga melakukan hitung-hitungan pertimbangan,'' ungkapnya. Mantan calon presiden itu berharap, pemerintah mampu menata ulang kebijakan-kebijakannya. Selain itu dia juga menilai, pemerintah saat ini penuh dengan ketidakkonsistenan dalam menerapkan kebijakan-kebijakan politiknya. Ditengarai, ada indikasi menjelang 2009 saat pelaksanaan pemilu selanjutnya, tidak ada lagi kebijakan politik yang mencitrakan kebusukan-kebusukan. Sementara itu, pengamat ekonomi yang juga mantan kepala Bappenas Kwik Kian Gie berpendapat, perpolitikan sangat memengaruhi kondisi perekonomian bangsa. Dia mempertanyakan semangat nasionalisme saat ini. Mengingat, semakin terbukanya saluran informasi, batas-batas kewilayahan negara sudah tidak ada lagi. Dia pun masih menyangsikan kemampuan bangsa ini untuk mampu bekerja sama dengan negara-negara maju saat ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi acuan dewasa ini. ''Saya pernah meminta tanggapan kepada teman-teman saya yang menjadi dubes perihal pandangan luar negeri terhadap Indonesia. Mereka menjawab, bangsa kita merupakan bangsa yang rendah dan hina dina. Kemunduran moral, korupsi, penguasaan iptek, lemahnya persatuan dan kesatuan, serta pertahanan keamanan,'' paparnya. Saat ini, memang sudah tidak ada lagi penjajahan secara fisik dengan mengangkat senjata. Kini, penjajahan telah berubah menjadi penguasaan budaya, teknologi, dan perekonomian. Banyaknya utang suatu negara bisa menjadi alat pengendalian oleh negara-negara besar. (mhr, H12-41j) | ||||