| Senin, 19 Desember 2005 | NASIONAL |
Dua Tewas Terseret Sungai JragungDEMAK - Beberapa sungai di Demak yang tidak mampu menahan debit air akibat hujan lebat Sabtu (17/12), telah menelan dua korban jiwa. Sedikitnya, ditemukan dua pemuda tewas karena tenggelam di Sungai Jraggung, Karangawen, Minggu (18/12). Mereka adalah Wirasto (27) dan Ali Muhajir (25) yang sama-sama bertempat tinggal di Dukuh Sapen, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Wirasto ditemukan Sabtu malam sekitar pukul 19.00 sedangkan Ali Muhajir pada Minggu sore lebih kurang pukul 15.00. Jenazah korban ditemukan mengapung di tepi sungai. Warga Jragung yang mengetahui adanya mayat tersebut segera melaporkan ke Mapolsek Karangawen. Mayat korban dapat dievakuasi oleh polisi yang langsung dipimpin oleh Kapolsek AKP Sulaeman. Kapolres Demak AKBP Eka Tjahjanto melalui Kapolsek Karangawen AKP Sulaeman mengemukakan, kedua korban tenggelam setelah terbawa banjir dengan air kencang. Mereka bermaksud menyeberang dengan berenang. Korban menidakacuhkan derasnya air sungai dengan lebar 50 meter itu lantaran sudah terbiasa melewatinya. ''Kalau saja mereka menyadari air sungai mengalir begitu deras, pasti tidak akan menjadi korban,'' ujarnya. Sejak Sabtu kemarin, sejumlah sungai di Demak banjir. Sebagian tidak bisa menahan air kiriman dari Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang. Sementara itu teman korban, Muhadi (30), warga Dukuh Sapen, Candisari menuturkan, Sabtu kemarin kedua temannya tidak menyadari bahwa air di sungai itu sedang tidak bersahabat. Mereka justru tertarik melihat air sungai banjir dan dipandang mengasyikkan untuk bermain. Semestinya, korban berniat menyeberangi sungai itu dengan berenang. ''Tenyata hal itu mengakibatkan sial karena harus mempertaruhkan nyawa.'' Banjir Surut Air luapan Sungai Tuntang yang sebelumnya menggenangi ratusan rumah warga Desa Ploso, Kecamatan Karang Tengah dan Desa Solowire, Kecamatan Kebonagung serta sebagian Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, kemarin terlihat meyusut. Air masih menggenangi desa-desa tersebut namun hanya 20 cm. Sejak pagi kemarin, warga mulai membersihkan rumahnya yang kemasukan lumpur akibat banjir. Sebagian lain bergotong royong menyingkirkan sampah dan kayu yang berserakan di jalan-jalan kampung. Di jalan desa selebar dua meter itu banyak terdapat lumpur. Perahu karet dari Kesbanglinmas sudah tidak ada di desa tersebut. Sebelumnya, perahu karet itu dipakai sebagai satu-satunya alat transportasi untuk mengantarkan warga yang habis kerja menuju ke rumah masing-masing. Abdul Aziz, warga Desa Ploso, menuturkan, desanya sudah terbiasa menerima banjir akibat luapan Sungai Tuntang. Hal itu karena kondisi tanahnya kurang tinggi dan tidak terdapat tanggul sungai. Selama ini, warga menyiasatinya dengan membuat rumah panggung termasuk rumah permanen. ''Ternyata masih terkena banjir. Kami berharap, Pemkab meninggikan tanggul agar banjir rutin itu tidak terulang.'' (H1-41j) |