| Senin, 19 Desember 2005 | NASIONAL |
18 Aktivis Indonesia Ditahan
HONG KONG - Sebanyak 18 anggota Federasi Serikat Petani Indonesia saat ini ditahan di Kantor Polisi Hong Kong. Mereka ditangkap ketika terjun dalam unjuk rasa menentang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Sabtu malam lalu. Para aktivis Indonesia itu berusaha menuju ke gedung Hong Kong Convention Center, tempat pelaksanaan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) VI WTO. Unjuk rasa anti-WTO berlanjut Minggu kemarin dengan ribuan demonstran dari berbagai negara. Ribuan pengunjuk rasa meneriakkan yel-yel anti-WTO dalam aksi damai di Hong Kong. Mereka kembali memprotes perundingan perdagangan itu setelah sehari sebelumnya bentrok dengan polisi. Muhamad Ikhwan dari Federasi Serikat Petani Indonesia kemarin mengatakan, dia ditangkap polisi setelah melakukan aksi menuju Hong Kong Convention Center, Sabtu malam lalu. Para demonstran dianggap melakukan kerusuhan, maka dilakukan penangkapan dan saat ini sedang dalam pemeriksaan untuk dimintai keterangan. ''Bersama saya saat ini ada 17 orang anggota delegasi Federasi Serikat Petani Indonesia yang ditangkap. Sejumlah petani dari negara lain juga ditangkap,'' kata dia saat diwawancarai radio ElShinta. Dia menjelaskan, 60 anggota Federasi Petani itu berada di Hong Kong untuk melakukan demonstrasi bersama dengan para petani dari seluruh dunia seperti Korea, Thailand, Filipina dan Afrika. Semuanya tergabung dalam Gerakan Petani Internasional. Di dalam gedung Convention Center, para menteri perdagangan menyepakati deklarasi Hong Kong. Deklarasi itu menyatakan bahwa pada 2013 negara-negara anggota WTO harus mengakhiri subsidi ekspor pertanian, memperluas bantuan ekspor untuk negara-negara miskin, dan menawarkan bantuan bagi produsen katun Afrika. Kesepakatan itu merupakan serangkaian kompromi dari para peserta pertemuan. Mereka gagal membuat skema yang lebih ambisius. Para menteri perdagangan juga sepakat akan tetap mewujudkan rencana perdagangan bebas, yang dikenal dengan kesepakatan Putaran Doha. Kesepakatan itu diyakini dapat memperbaiki perekonomian dunia dan mengentaskan jutaan orang miskin. ''Pertemuan sekarang ini tidak gagal. Pertemuan ini tidak bernasib seperti pertemuan Cancun,'' kata Menteri Perdagangan Australia Mark Vaile. Perundingan 2003 di Cancun, Meksiko gagal lantaran ada perbedaan pendapat antara negara-negara kaya dan miskin. Akan Diadili Juru bicara polisi Hong Kong kemarin mengatakan, sebanyak 900 demonstran ditangkap. Sebagian besar yang ditangkap adalah warga Korsel. Kantor berita Korsel Yonhap melaporkan, Seoul telah mengontak otoritas Hong Kong untuk mengupayakan penyelesaian lunak mengenai penangkapan petani Korsel tersebut. Ketika ditanya apakah demonstran yang ditangkap akan diadili atau dideportasi, juru bicara kepolisian Hong Kong menjawab, ''Semua yang ditangkap akan diperlakukan sesuai dengan hukum Hong Kong.'' Kepala Eksekutif Hong Kong Donald Tsang membenarkan polisi telah menangkap ratusan orang. Namun, dia tidak berkomentar soal pendeportasian para demonstran yang ditangkap itu. Dia juga membantah tuduhan penyiksaan terhadap demonstran. ''Kami memperlakukan mereka dengan hati-hati. Kami ingin mengetahui siapa saja yang terlibat dalam perusakan dan penyerangan terhadap polisi. Semuanya akan diperiksa dalam 48 jam. Mereka yang terbukti melanggar hukum akan diadili,'' kata Tsang kepada Reuters. Ikhwan mengatakan aksi dilanjutkan kemarin pagi. Mereka menentang pelaksanaan KTM VI WTO sebab aturan-aturan WTO sangat merugikan petani. Dalam unjuk rasa kemarin, demonstran Indonesia mengusung laba-laba raksasa buatan. Mereka mengatakan negara-negara kaya sama dengan hewan yang haus darah. Sebab, negara-negara kaya menyedot keuntungan dari negara-negara miskin. Bertemu Menteri Dalam aksi itu, Serikat Petani Indonesia juga telah bertemu dan menyampaikan pernyataan mereka kepada Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu. Pernyataan itu antara lain menuntut, Indonesia tidak menandatangani perjanjian pertanian. Kemudian, mereka mendesak WTO untuk keluar dari urusan pertanian. Mereka juga menyatakan bahwa isu beras impor merupakan paksaan dari WTO. ''Petani menderita karena akses pasar dibuka. Sebaliknya, perlindungan terhadap petani semakin minim. Itu merupakan dampak liberalisasi perdagangan,'' tegasnya. Mereka bergabung dalam aksi pawai ribuan pengunjuk rasa dari negara-negara lain. Pasukan keamanan mengawasi aksi pawai damai yang berawal dari Victoria Park itu. Pihak penyelenggara aksi pawai di Hong Kong mengatakan jumlah pengunjuk rasa dalam demonstrasi itu sekitar 7.000 orang. Namun, beberapa wartawan memperkirakan peserta demo itu hanya beberapa ribu orang. Reuters melaporkan polisi menambah pasukan mereka untuk menjaga gedung pertemuan. Beberapa kendaraan lapis baja memblokade jalan menuju gedung tersebut. Namun tidak ada bentrokan kemarin. Setelah berpawai sekitar dua jam, sebagian besar pengunjuk rasa kemudian meninggalkan lokasi demo itu. Namun sebagian kecil bergabung dengan 150 demonstran asal Korea Selatan. Mereka bernyanyi-nyanyi dan menabuh drum ketika sejumlah petugas polisi mendekat. Demonstran Korsel itu menentang perdagangan bebas dan menolak impor beras ke negara mereka. Dalam unjuk rasa Sabtu lalu, mereka bentrok dengan polisi. Para pengunjuk rasa berusaha menerobos barisan polisi untuk mencapai gedung pertemuan WTO. Tolak Liberalisasi Sabtu lalu, sekitar 50 petani Indonesia ambil bagian dalam demonstrasi di Victoria Park, Hong Kong. Mereka memperingati Hari Petani dengan melakukan aksi penolakan WTO. ''Kami, para petani, berkumpul untuk menolak agenda liberalisasi perdagangan. Tuntutan kami adalah mengusir WTO dari pertanian,'' kata Sekjen Federasi Serikat Petani Indonesia Henry Saragih, dalam siaran persnya. Menurut Henry, para buruh dan petani bersatu melawan rezim perdagangan bebas WTO. Dia mengatakan ada indikasi bahwa KTT WTO di Hong Kong itu tidak akan menghasilkan kesepakatan. KTT itu merupakan kelanjutan dari Putaran Doha. Kendati demikian, Putaran Doha yang akan berakhir tahun 2006 dikhawatirkan akan menghasilkan aturan liberalisasi. Untuk itu, petani dan seluruh elemen masyarakat terus merapatkan barisan untuk melawan agenda liberalisasi. ''Perjuangan masih panjang, masih banyak agenda neoliberalisasi lain. Masih ada perjanjian pasar bebas seperti FTA, BFTA, dan bentuk-bentuk kamuflase lainnya,'' kata Henry. Dalam aksi tersebut dua artis kondang Indonesia juga ambil bagian. Mereka adalah penyanyi Franky Sahilatua dan aktris Rieke Dyah Pitaloka. Franky dan Rieke, mengajak seluruh petani bernyanyi bersama. Mereka menyanyikan lagu ''We Shall Overcome''. ''Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Saya turut prihatin dan akan terus berjuang bersama buruh migran dan kaum tani,'' teriak Rieke berapi-api. Aktivis buruh migran Indonesia telah diincar polisi Hong Kong, sebelum pertemuan WTO itu diselenggarakan. Sabtu (10/12) lalu, polisi menyerbu kantor Perserikatan Buruh Migran Indonesia (IMWU) di Hong Kong. Seorang aktivis IMWU terluka dalam penyerbuan itu.(rtr-dtc-ben-25) |