logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 MURIA
Line

Saeroji, Penambal Ban ''Panggilan''

JARUM jam sudah menunjukkan pukul 23.15 ketika seraut wajah yang masih menyisakan rona kantuk menyembul keluar. Dia terbangun karena seseorang mengetuk daun pintu rumahnya. Laki-laki separo baya bersarung itu pun seperti tahu apa yang harus dia lakukan, sesuatu yang mungkin sama bergunanya dengan pertolongan seorang dokter kepada pasiennya pada malam buta.

Namun, sosok sederhana bernama Saeroji (51) tersebut bukanlah tenaga medis. Kakek sembilan cucu dari enam anaknya itu hanya pengayuh kereta angin alias becak dan pada malamnya beralih pekerjaan menjadi tukang tambal ban panggilan.

''Maksudnya, jika malam-malam ada yang memanggil-manggil karena ban motornya kempis, tentu saya akan keluar,'' ujarnya dengan senyum ramah.

Apa yang dia lakukan tidak hebat apalagi heroik. Meski demikian, banyak pengendara motor arah Semarang - Kudus yang kebanan sungguh sangat tertolong oleh pekerjaan yang banyak dianggap orang sebagai ora mbejaji itu.

Tak terhitung, para pengendara motor yang mengetuk pintu rumahnya di RT 9 RW 2, Desa Sidorawuh, Sayung, Demak itu menjelang tengah malam ataupun lepas saat sebelum subuh. Suami Suratmi itu tak pernah mengelak dari ''tanggung jawab''-nya untuk warga yang membutuhkan bantuannya itu.

Dia yang masih terlihat gurat otot-otot mudanya itu memang tak membuka usahanya pada siang hari dan juga tak membuat tempat khusus untuk itu. Siapa pun yang membutuhkan bantuannya, terutama di malan hari, warga sekitar biasanya akan langsung menyebut namanya.

Langganan

Risikonya, dia harus pandai-pandai mengatur waktu untuk beristirahat di sela pekerjaannya sebagai penarik becak. Padahal, lelaki yang pernah menjadi buruh bangunan di sejumlah kota di Pulau Jawa pada 1970 hingga 1980-an iniitu harus siap mengantarkan bakul langganannya sejauh 12 kilometer dari Demak menuju ke Pasar Johar Semarang.

Seusai narik, dirinya biasanya segera pulang dan buru-buru merebahkan diri di selembar tikar plastik di rumahnya. Hal itu dia lakukan agar bila nanti malam ada orang yang ''mengganggunya'' tak akan terlalu merasakan siksa kantuk itu.

''Saya menjadi tukang tambal ban seperti ini karena di sekitar rumah saya tak ada yang melakukan usaha tersebut. Selain itu, usaha ini saya lakukan dengan niat ibadah menolong orang lain,'' tuturnya.

Sejumlah pedagang yang biasa mangkal di Jalan Raya Sayung-Demak akan segera menyebut namanya bila ditanyai tukang tambal ban yang masih mau beroperasi saat malam tiba. Akibatnya, tandasnya, dia memang harus sering kali ''tersiksa'' dan siap diketuk pintu rumahnya bila memang ada yang membutuhkan bantuannya.

Mengaku tak tamat SD, Saeroji kini menyatakan dapat menikmati sisa hidupnya dengan pekerjaan itu. Dari hasil mengayuh becak pula, empat dari enam anaknya kini telah mentas. Selain itu, sepetak rumah yang dibangunnya dengan kedua tangannya sendiri, sebuah pesawat televisi 14 inci, dan motor kredit bisa jadi menjadi harta benda begitu dia syukuri.

Selain itu, hampir setiap hari ada saja orang yang meminta bantuan untuk menambal ban motor. Meski harus terusik tidur malamnya dan terkadang hanya dibayar Rp 5.000 - Rp 10.000, dia juga merasa sangat berbahagia untuk dapat selalu melakukan hal tersebut. (Anton Wahyu Hartono-15j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA