logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 MURIA
Line

Diapresiasi Bank Dunia

TIDAK selamanya ilmu pengetahuan harus dikembangkan melalui perguruan tinggi. Asal memiliki kreativitas dan keuletan yang terasah, ilmu pengetahuan juga bisa dikembangkan dari sebuah dusun kecil yang jauh dari hiruk-pikuk dan hinggar-binggar lingkungan akademis.

Begitulah prinsip M Nurrochman SKom, pengarang buku Mental Aritmatika Sempoa Tangan dan Komputer. Berbekal pengetahuan akademis yang didapatnya dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, pria asal Dusun Soditan Lasem ini mencoba mengembangkan pembelajaran mental aritmatika kepada siswa sekolah dasar di lingkungannya.

''Hingga saat ini ada lebih dari 1.500 anak yang ikut mempelajari mental aritmatika sempoa tangan dan komputer ini. Hasilnya cukup bagus. Mereka lebih menonjol dalam mengerjakan soal-soal hitungan maupun logika,'' kata Nurrochman yang mengarang buku itu bersama dengan rekannya Juhartutik Spd.

Selain menjadi rujukan bagi sejumlah siswa di Kabupaten Rembang, buku Mental Aritmatika Sempoa Tangan dan Komputer itu juga mendapatkan apresiasi yang tinggi dari World Bank (Bank Dunia). Pada 2005, dia bersama Juhartutik mengirimkan proposal pembelajaran mental aritmatika untuk mengikuti lomba pembelajaran dan pendidikan bagi anak yang diselenggarakan oleh Bank Dunia. Dari sekitar 3.000 proposal yang masuk dari seluruh Indonesia, proposal dua pengajar Lembaga Pendidikan Mental Aritmatika ''ASTA'' Soditan Lasem Rembang ini berhasil masuk di urutan 35 besar.

''Kami diundang oleh perwakilan Bank Dunia di Jakarta untuk memberikan paparan secara terperinci mengenai metode pembelajaran mental aritmatika sempoa tangan dan komputer. Selain memaparkan program, di sana kami juga beramah tamah dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara,'' jelas pemuda kelahiran Lasem ini bangga.

Meski sudah tiga tahun mencoba mengenalkan metode hitungan itu kepada siswa didik serta mendapatkan penghargaan dari Bank Dunia, hal tersebut belum cukup untuk mendapatkan perhatian dari dinas maupun instansi terkait. ''Menko Kesra Alwi Shihab waktu itu pernah merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Rembang memberikan perhatian kepada metode pembelajaran ini dan meminta untuk dikembangkan di Rembang. Hanya saja hingga saat ini belum ada realisasinya,'' tandasnya. (Mulyanto Ari Wibowo-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA