logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 MURIA
Line

Menggagas Pendirian Klinik Pengobatan di LI

Sebelum Melayani Tamu, Periksa Kesehatan Dulu

MERASA di wilayah kerjanya terdapat kompleks pelacuran Lorong Indah (LI) yang kian hari terus berkembang, wajar jika Kepala Puskesmas Kecamatan Margorejo, Pati, Aryono Widodo SKM, menggagas pendirian sebuah klinik pengobatan khusus untuk menangani penderita penyakit menular akibat hubungan seks.

Lokasi klinik yakni di tengah-tengah kompleks tersebut. Alasannya, jumlah pekerja seks komersial (PSK) terus bertambah. Kompleks tersebut juga tak pernah sepi dari para lelaki hidung belang.

Untuk menuju lokasi LI yang di tengah-tengah persawahan itu, bila musim hujan seperti sekarang, jalanan tanah berlapis batu menjadi becek. Di samping itu, jaraknya dari jalan raya juga tidak kurang dari dua kilometer dan bila malam hari dalam keadaan gelap gulita.

Meski lokasinya tersembunyi di ''lubang semut'', tetap dicari para lelaki hidung belang. Karena itu, Aryono yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat mencoba mencari jalan pemecahan, agar para penghuni lokalisasi itu yang saat ini berjumlah lebih dari 100 orang jangan sampai menjadi penyebar penyakit menular di masyarakat.

Apalagi, mereka rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular akibat hubungan seks berganti-ganti pasangan. Satu jenis penyakit di antaranya yang mematikan adalah HIV/AIDS.

Jumlah mereka belum termasuk dengan PSK yang beroperasi di warung ''esek-esek'' seperti di Gajahkumpul, Kecamatan Batangan, Juwana, Pucakwangi, Gabus, Winong, Tambakromo, dan di lokasi lain di wilayah Pati Utara.

''Dari data pengambilan sampel darah terhadap PSK oleh petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Pati belum lama ini, jumlah mereka tercatat 219 orang,'' ucap Aryono.

Kajian

Jika jumlah itu dalam waktu sehari semalam rata-rata melayani lelaki hidung belang tiga kali, dalam waktu 1 x 24 jam lelaki yang rentan terhadap ancaman penularan penyakit akibat hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti tersebut 657 orang.

Sebab, selalu terbuka peluang setiap PSK yang menjadi pasangannya berpotensi menularkan penyakit tersebut.

Karena itu, pencegahan terhadap sumber penyebab berjangkitnya penyakit menular itu tidak ada cara lain, kecuali para PSK harus selalu mendapat pengawasan masalah kesehatannya. Hal itu bisa dilakukan bila para wanita penjaja cinta tetap berada dalam kompleks, sehingga klinik pengobatan mutlak diperlukan.

Bahkan dengan klinik tersebut, deteksi sejak dini terhadap kemungkinan munculnya penyakit menular akibat hubungan seks bisa dilakukan setiap saat, sehingga tidak hanya bergantung pada pencegahan melalui suntikan satu minggu sekali. Itu pun bila mereka didatangi petugas dari puskesmas yang harus melayani mereka dari rumah ke rumah.

Dengan tersedianya klinik pengobatan, bila perlu seorang lelaki hidung belang bisa melakukan pengecekan kesehatan PSK yang dikencani. Yakni, terlebih dulu minta diperiksa kesehatannya oleh petugas.

Perlengkapan yang utama harus tersedia di klinik itu adalah sebuah mikroskop dan bila perlu ditunjang dengan sebuah laboratorium.

Sebaliknya, PSK juga bisa minta kepada lelaki hidung belang yang mengajaknya kencan untuk diperiksa di klinik, bila memang kesehatan lelaki tersebut memang meragukan. ''Terhadap hal-hal seperti itu memang dibutuhkan keberanian untuk memulai. Mengapa tidak?'' ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati dokter H Sardjana mengatakan, gagasan itu cukup baik. ''Namun, terlebih dulu harus dikaji bersama dengan jajaran dinas/instansi terkait, termasuk dengan pihak rumah sakit,'' sarannya.(Alman Eko Darmo-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA