logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 MURIA
Line

Penggilingan Padi Terancam Bangkrut

  • Dampak Kenaikan Harga BBM

KUDUS - Kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa bulan lalu ternyata secara perlahan memukul semua usaha jasa penggilingan padi.

Meski harga pelayanan penggilingan gabah di tingkat pengguna mengalami peningkatan, hal itu ternyata tak mampu mendongkrak pendapatan. Bahkan sampai saat ini banyak pengelola usaha tersebut yang beroperasi tanpa memperoleh keuntungan sama sekali.

Seorang pemilik usaha penggilingan padi dari Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Ny Siti Rowijah, Minggu (18/12) kemarin menuturkan, sekitar tiga bulan terakhir -sejak harga BBM naik- keuntungan yang dia peroleh merosot lebih dari 20%.

''Kenaikan ongkos produksi berimbas pada penurunan keuntungan yang kami peroleh,'' ujarnya.

Ia juga mengatakan, ada dua jenis pengguna jasa penggilingan padi yang memanfaatkan usahanya. Yakni, pedagang dan warga biasa. Sebelum kenaikan harga BBM, jumlah gabah yang dapat digilingnya setiap hari dua ton (dari pedagang) dan satu ton dari masyarakat setempat. Jumlah tersebut bertahan selama musim panen, yakni sekitar dua bulan.

''Pada saat menunggu musim panen yang masih cukup lama seperti sekarang, hanya warga sekitar yang memanfaatkan jasa usaha kami.''

Jumlahnya pun di bawah 400 kg gabah/hari. Sebelumnya, ongkos penggilingan untuk satu kilogram beras dari pedagang Rp 105, sedangkan untuk warga setempat (untuk konsumsi sehari-hari) Rp 100/kg. Kini harga jasa penggilingan untuk warga Rp 150/kg. Namun harga untuk penggilingan pedagang, Rowijah mengaku masih belum bisa menentukannya, mengingat musim panen belum tiba.

''Biasanya, masalah harga merupakan kesepakatan antara kami dan pedagang,'' tandasnya.

Hasil dari penggilingan padi milik warga sekitar sebelum kenaikan harga BBM bisa mencapai Rp 500.000/bulan. Namun selama tiga bulan terakhir, usaha itu sama sekali tidak mendapatkan keuntungan.

''Jumlah beras warga yang digilingkan sebelum kenaikan harga BBM bisa mencapai 0,5 ton/bulan. Namun selama tiga bulan terakhir ini hanya 0,25 ton/bulan,'' ujarnya.

Keuntungan tersebut belum dikurangi upah pekerja Rp 300.000/bulan. Selama sebulan, dia juga masih harus membeli 50 liter solar untuk menjalankan mesin gilingnya dan mengganti rol penggiling Rp 200.000/ bulan. ''Kondisi itu mengancam kelangsungan usaha kami. Setidaknya, pengelola penggilingan beras bermodal kecil seperti kami sudah terancam bangkrut.'' (H8-50n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA