logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Desember 2005 MURIA
Line

Tungku Hemat BBM ala Sarto

SELANGKAH demi selangkah, kaki Sarto menyusuri gang demi gang di beberapa ruas jalan di Blora. Pria berusia 45 tahun itu hendak menjual tungku hasil karyanya kepada warga. ''Tungku Bu, tungku hemat BBM...,'' teriaknya serius, kemarin.

Meski dia harus berteriak-teriak, warga hanya menyambut dingin. Sebagian dari mereka menilai teriakan Sarto hanya sebagai cara agar warga tertarik membelinya.

Memang, tungku yang dibawa penduduk Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Blora itu tidak ada bedanya dari tungku yang dijual di pasar-pasar. Tungku tersebut menggunakan bahan tanah liat, dengan diameter sekitar 20 cm, tinggi 20 cm.

Yang berbeda, hanya cara menawarkannya. Seiring dengan momentum kenaikan harga BBM yang lalu itulah, Sarto menjajakannya sambil berteriak, ''tungku hemat BBM''.

''Bagaimana caranya agar warga tertarik dengan dagangan yang kita bawa. Mungkin dengan kalimat yang saya teriakkan, warga yang berada di dalam rumah akan keluar melihat dagangan saya. Dari situlah awal kemungkinan barang ini dibeli,'' jelasnya.

Pria yang dikaruniai lima anak itu mengatakan, cara yang digunakan tersebut ternyata cukup membuahkan hasil. Dia mengaku, hampir setiap hari 10-15 tungkunya terjual. Apalagi harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal. Harganya Rp 5.000/buah. ''Harga ini masih bisa berubah-ubah, bergantung pada kelihaian mereka menawar,'' tandasnya.

Sarto mengaku, untuk membuat dan menjual tungku, dia tak mempersiapkan modal cukup besar. Namun dia tak mau menyebutkan berapa persisnya modal yang diperlukan saat awal berjualan tungku.

Sejak kapan Sarto membuat tungku?

Menurut penuturannya, sejak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Sebelumnya, pria yang hanya lulus SD tersebut setiap hari sibuk membuat batu bata di dekat rumahnya.

''Sejak harga BBM naik, saya merasa pasti banyak warga yang akan beralih ke kayu bakar atau arang. Oleh karena itu, saya manfaatkan kesempatan kenaikan harga BBM ini dengan membuat tungku sendiri,'' katanya.

Dia mengakui, sejak pertengahan Oktober lalu, dia bersama beberapa rekan sesama pembuat batu bata mulai membuat tungku. Hasilnya, menurut Sarto, keuntungan yang diperolehnya ternyata lebih besar daripada membuat batu bata.

''Membuat batu bata kita harus menunggu pembeli datang, namun kalau menjual tungku begini, kita yang mendatangi pembeli. Uang yang kita dapat ternyata juga cukup lumayan. Setiap hari saya mendapat keuntungan kotor sekitar Rp 50.000,'' ucapnya.

Sarto mengungkapkan, tingginya tingkat penjualan barang dagangan yang dia bawa itu tidak terlepas dari banyaknya warga yang beralih menggunakan arang untuk memasak.

Dia mengetahui bahwa beberapa penjual arang juga mendapatkan keuntungan cukup banyak dari hasil penjualan arang lantaran pembelinya semakin banyak. ''Sebelumnya, saya hanya mencoba-coba membuat tungku ini, tapi ternyata hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,'' tuturnya. (Abdul Muiz-54n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA