| Senin, 19 Desember 2005 | KEDU & DIY |
Didik Nini Thowok Ngamen, Malioboro MacetDEPAN Istana Negara Gedung Agung, Sabtu (17/12) petang macet, menyusul adanya adegan tari kreasi baru dari Sanggar Tari Natya Laksita pimpinan seniman tari Didik Nini Thowok yang ngamen di Jalan A Yani, Yogyakarta. Aksi seni tari dengan gaya ngamen seni tradisional ini, langsung membuat jalan di jantung Kota Yogyakarta macet, karena dipadati masyarakat yang kebetulan sedang melalui jalan tersebut. Mereka langsung berhenti, setelah mengetahui ada Didik Nini Thowok dan kawan-kawannya yang ''ngamen'' di depan Gedung Agung. Meski dalam keadaan hujan, namun masyarakat yang menyaksikan atraksi Didik Ngamen tetap tidak bergeming dari tempatnya. Melihat antusiasme penonton yang demikian besar, Didik dan kawan-kawannya terpaksa meladeninya dengan berbagai atraksi yang memikat. Namun atraksi itu terpaksa berhenti setelah turun hujan deras. Saat itulah baik penari maupun penonton bubar mencari tempat teduh yang ada di seputaran jalan tersebut. Melihat alam yang tidak begitu bersahabat, Didik dan kawan-kawan hanya bisa senyum sambil membetulkan dandanannya yang acak-acakan karena diterpa air hujan. Yang menarik dari aksi ngamen Didik Nini Thowok ini yakni adanya wisatawan asing yang turut menari. Wisatawan asing ini, turut menari bersama Didik dan kawan-kawannya. Usai ikut menari dia pun langsung memasukkan uang di dalam kotak yang disediakan. Dari ratusan penonton ada juga yang turut memasukkan uang recehan ke kotak kaleng yang disediakan. Selama ngamen di depan Istana Negara Gedung Agung, Didik mendapat Rp 219.000, Menurut Didik, semua penghasilannya hari itu seluruhnya akan disumbangkan ke panti asuhan. ''Seluruh hasil yang kami peroleh, nantinya akan kami sumbangkan ke panti asuhan,'' ujar Didik Nini Thowok usai menari. Menghidupkan Ngamen yang dilakukan Didik Nini Thowok ini, sama sekali tidak menggunakan peralatan gamelan atau sejenisnya. Melainkan menggunakan tape recorder, suaranya tidak begitu keras karena memang tanpa menggunakan pengeras suara. Lepas dari semuanya itu, aksi yang dilakukan Didik Nini Thowok ini bertujuan ingin menghidupkan kembali kawasan Malioboro sebagai sumber inspirasi kaum seniman. Sekaligus untuk kehidupan rutin para pengamen yang kini sudah mulai hilang. Padahal, pada era tahun 70-an kawasan Malioboro merupakan tempat para seniman mencari inspirasi. Namun, sekarang ini hilang, meski pernah melahirkan seniman-seniman terkenal seperti WS Rendra, Ebit G Ade, Sawung Jabo, dan masih banyak lagi lainnya. Ide unik dari seniman tari ini, ternyata mendapat sambutan dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kepala Badan Pariwisata Daerah (Baperda) DIY, Condroyono. Sebagai bentuk dukungannya, pihaknya memberi bantuan dana selama menggelar kegiatan tersebut. Aksi seni tari dengan gaya ngamen ini, akan dilakukan selama satu tahun penuh. Aksi ini akan digelar setiap Sabtu sore pukul 16.00-17.30. Dengan materi tari berbeda-beda, sehingga masyarakat yang menyaksikan tidak jenuh. (Sugiarto-36v) |