logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Desember 2005 PANTURA
Line

Harga Bawang Merah Turun

TEGAL - Harga bawang merah di tingkat pedagang dalam tiga hari terakhir turun. Penyebabnya, kualitas bawang juga turun karena lahan terguyur hujan ketika mendekati masa panen. Selain itu, stok melimpah.

Dari pemantauan yang dilakukan Suara Merdeka di tiga pasar induk, yakni Pasar Pagi, Pasar Anyar, dan Pasar Kejambon serta di sebuah pasar tradisional (Langon) harga salah satu jenis bumbu dapur tersebut memang turun.

Salah satu pedagang bawang di Pasar Pagi, Junaenah (37) warga Kelurahan Bandung, Tegal Selatan mengatakan, saat ini harga bawang merah besar Rp 4.500 per kilogram. Padahal, semula Rp 6.500/kg.

Untuk jenis bawang merah sedang, Rp 3.500 per kilogram dari semula Rp 5.500.

"Yang kecil kami jual Rp 2.500 per kilogram dari harga semula Rp 4.500/kg," ujarnya.

Mengenai permintaan, menurutnya stabil. Setiap hari, paling tidak dia menjual 1 kuintal.

"Penurunan harga dipengaruhi hujan yang mulai mengguyur sejumlah lahan di Kabupaten Brebes, sentra tanaman bawang. Akibatnya, kualitas bawang turun," tuturnya.

Murah

Sementara itu, pedagang bumbu di Pasar Langon Tegal Timur Wakiah (45) warga Tunon RT 4 RW 3 Kecamatan Tegal Selatan, menjual bawang merah besar Rp 5.000 dari harga semula Rp 7.000/kg. Untuk jenis sedang, dia jual dengan harga Rp 4.000/kg, semula Rp 6.000. Bawang kecil yang semula Rp 5.000/kg, kini hanya Rp 3000/kg.

Wakiah mengatakan, bawang merah dia beli dari pasar bawang di Banjaran, Kabupaten Tegal.

Karena persediaan barang di pasar menumpuk, harga menjadi lebih murah. Dia mengaku mengambil keuntungan rata-rata Rp 1.000 rupiah per kilogram.

Meskipun harga turun, Wakiah mengaku permintaan konsumen cukup stabil. Dia bisa menjual bawang merah hingga 20 kilogram per hari.

"Paling sedikit, saya menjual 10 kilogram per hari," ujarnya.

Penurunan harga bawang merah yang masih diikuti permintaan stabil, diakui Wakiah tidak menyebabkan kerugian. Namun jika dibandingkan dengan musim kemarau, keuntungan pada musim penghujan lebih sedikit.

"Penyusutan setiap 20 kilogram bawang yang dibeli dari Banjaran pada musim kemarau, paling banyak tiga kilogram. Sedangkan bawang hasil panen musim penghujan, cenderung mengandung banyak air dan cepat membusuk," ungkapnya.

Dia mengaku dalam beberapa hari terakhir, hanya memperoleh sedikit keuntungan dari menjual 20 kilogram bawang/hari. "Sebelumnya, keuntungan mencapai Rp 11.000. Sekarang, hanya Rp 6.000," tambahnya. (lei-52m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA