| Kamis, 15 Desember 2005 | PANTURA |
Semestinya Tak Perlu Impor BerasPEKALONGAN - Indonesia tidak perlu mengimpor beras, asal bisa meningkatkan produksi 10 persen saja dari produksi selama ini (4,5 ton/hektare). "Produksi padi Indonesia yang sekarang 4,5 ton/ha semestinya dapat ditingkatkan menjadi 4,9 ton/ha," kata ekonom Prof Dr Sri Edi Swasono, dalam dialog di Kospin Jasa Pekalongan, Selasa (13/12 malam. Dialog yang dibuka Ketua Umum Kospin Jasa Zaky Arslan Djunaid itu dihadiri ratusan anggota dan pengurus. Guru besar UI itu menambahkan, Indonesia mestinya malu melihat kemajuan negara lain seperti China, Vietnam, Tailand, dan Australia. China, misalnya, mampu menghasilkan padi lebih banyak daripada Indonesia, setelah menggunakan pupuk baru. Di sana, produksi padi antara 10 ton dan 11 ton per hektare. Vietnam dapat menghasilkan padi delapan ton/ha dan Australia 12 ton/ha. "Itu bisa terjadi, karena petani mereka lebih kreatif dan mau mencoba teknologi baru. Dengan pupuk temuan baru, mereka bisa meningkatkan produksi," katanya. Dia menganggap aneh perilaku sebagian masyarakat Indonesia yang tidak mau mencoba hal-hal baru tersebut. Sementara itu, Pemerintah dan DPR juga diam saja. "Wilayah geografis kita tidak berbeda dengan Vietnam. Kalau Vietnam dengan teknologi baru bisa meningkatkan hasil produksi padi, kenapa kita tidak?" tanyanya. Perluas Kemampuan Tentang pembangunan, dia mengingatkan bahwa pengertian "pembangunan" berbeda dengan "pertumbuhan ekonomi yang tinggi". Hakekat pembangunan, katanya, bukanlah kaya. "Pembangunan terjadi, apabila perluasan kemampuan rakyat dilakukan dengan baik." Menurut Sri Edi Swasono, jika rakyat memiliki kemampuan, kemajuan pasti diraih. Sebab, kalau rakyat mampu maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat. "Penyakit busung lapar akibat kekurangan makan, yang ramai dibicarakan belakangan ini, akan hilang dengan sendirinya," kata dia.(A15-58) |