| Kamis, 15 Desember 2005 | OLAHRAGA |
Eriksson: Istirahat Untungkan InggrisLONDON - Pelatih tim nasional (timnas) Inggris Sven-Goran Eriksson menegaskan, istirahat selama empat minggu sebelum putaran final Piala Dunia tahun depan akan memberi kekuatan tambahan bagi David Beckham cs untuk bisa menjuarai turnamen itu. FIFA mengeluarkan peraturan yang melarang pemain-pemain Piala Dunia berkompetisi setelah 13 Mei. Peraturan ini dikeluarkan menyusul banyaknya keluhan bahwa putaran final World Cup 2002 kurang seru karena banyak pemain ternama yang kelelahan. Namun aturan ini tak berlaku bagi mereka yang terlibat pada final Liga Champions Eropa, dan final Piala FA. Sebagian besar pemain akan selesai berkompetisi pada 7 Mei, atau lima pekan sebelum Piala Dunia Jerman dimulai. Eriksson yakin panjangnya musim Divisi Utama Liga Inggris, yang tak mengenal istirahat musim dingin, telah menjadi penghambat utama mereka untuk bisa berprestasi pada turnamen besar. Akan tetapi pelatih asal Swedia ini menambahkan, perpanjangan istirahat selama sepekan jelas sangat menguntungkan. "FIFA menegaskan tak ada pertandingan yang dimainkan selama empat pekan sebelum Piala Dunia, dan saya sangat mendukung itu. Ini akan membuat perbedaan besar, saya yakin tentang itu," paparnya. Dia menuturkan, timnya menderita pada masa lalu karena kelelahan. Inggris baru sekali menjuarai Piala Dunia ketika mengalahkan Jerman (Barat) 4-2 pada final 1966 di Stadion Wembley, London. Bisa Berjaya Eriksson optimistis pasukan St George Cross bisa berjaya kembali pada tahun depan. Menurut dia, prioritas utamanya adalah menjadi juara grup yang terdiri atas Swedia, Paraguay, dan Trinidad & Tobago. "Menjadi juara dunia adalah mimpi semua penggemar, pemain, saya, staf pelatih, dan seluruh FA," ungkap Eriksson yang berbicara di depan dewan pariwisata Jerman di London. David Beckham cs dianggap sebagai salah satu dari lima tim yang bisa memenangkan World Cup di Jerman. Eriksson pun ingin mengakhiri kariernya dengan menembus final sebuah turnamen besar. "Sangat penting bagi Inggris untuk menjadi juara grup. Jika kami hanya menduduki posisi kedua, kami akan dicaci," lanjut mantan pelatih Lazio ini. Dia mendukung permintaan FA agar fans Inggris diberi jatah tiket lebih banyak karena mereka diperkirakan menjadi kelompok suporter asing terbesar di Jerman. Pelatih yang suka berganti-ganti pacar ini berharap pendukung timnya bertingkah baik. Inggris tersingkir dari Piala Eropa 2004 karena kalah adu penalti dari Portugal. Hal serupa terjadi ketika mereka jumpa Jerman pada Piala Dunia 1990, dan Piala Eropa 1996. Eriksson mengaku tak mungkin untuk secara khusus mempersiapkan diri menghadapi adu penalti. "Sangat sulit untuk berlatih tendangan penalti karena sulit menciptakan suasana yang sama," jelasnya. Dia lalu menandaskan, "Anda tak bisa melatih itu, tetapi kami akan mencoba sebaik mungkin. Kami berlatih tiga tendangan penjuru, satu penalti, dan saya memutuskan siapa yang menendang penalti." (rtr,A7-31) |