logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Desember 2005 NASIONAL
Line

Harga Beras Jatuh, Pupuk pun Mahal

KETERPURUKAN petani di Jawa Tengah makin bertambah dengan kelangkaan pupuk dalam beberapa minggu terakhir ini. Langkanya pupuk membuat daftar panjang kesulitan yang didera petani. Sebelumnya, mereka telah dihantam dengan masuknya beras impor yang membuat harga beras di pasaran jatuh.

Pupuk sudah langka, kalaupun diperoleh petani, harganya mahal. Namun di sisi lain, harga beras jatuh akibat masuknya beras impor. Seperti itulah, gambaran terakhir petani di Jawa Tengah akhir-akhir ini.

Informasi yang dihimpun di lapangan, harga beras sekarang sudah jatuh di bawah Rp 3.000/kg. Padahal harga sebelumnya, masih sekitar Rp 3.500/kg. Adapun harga pupuk misalnya urea, dulu setengah kuintal harga pupuk hanya Rp 53.000, sekarang menjadi Rp 68.000.

Kondisi itu belum termasuk ongkos pengolahan sawah sebelum ditanam. Ongkos traktor juga dikabarkan telah mengalami kenaikan seiring dengan naiknya harga BBM khususnya solar.

"Kelangkaan pupuk yang sekarang terjadi, menimbulkan keresahan bagi para petani. Apalagi kelangkaan itu terjadi pada awal masa tanam sehingga dikhawatirkan berdampak buruk bagi hasil komoditas pertanian," kata anggota Komisi B (Bidang Perekonomian) DPRD Jawa Tengah Mundir Afif, kemarin.

Mundir khawatir kelangkaan pupuk ini akibat permainan spekulan yang menimbun pupuk dalam jumlah yang besar, karena menurut informasi dari pihak produsen pupuk untuk musim tanam ini persediaan pupuk mengalami surplus.

Karena itu, anggota Dewan dari Fraksi Partai Demokrat ini mendesak kepada seluruh aparat terkait untuk serius menyikapi persoalan itu. Pemprov, pemkab/pemkot, dan dinas pertanian serta lembaga terkait lainnya harus bertindak tegas dan cepat agar keresahan petani itu segera berakhir.

Adapun menyangkut beras impor yang menyebabkan harga beras lokal jatuh, Komisi B meminta Departemen Perdagangan dan Perum Bulog agar menjelaskan kepada publik nama-nama perusahaan swasta yang telah mendapat dispensasi dari Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, untuk impor beras produksi petani asing ke Indonesia.

"Ini perlu agar publik mengetahui siapa saja selain Bulog yang sudah mendapatkan izin impor beras," ujar Khafid Sirotudin, Ketua Komisi B.

Kehadiran beras impor telah menjatuhkan harga beras. Sekarang kecenderungan turun masih terjadi. Ia menjelaskan, penjualan beras akan turun sebagai dampak masuknya beras legal ataupun ilegal dari luar negeri. Kedatangan beras impor legal merugikan petani. Sementara itu beras impor ilegal, selain merugikan petani juga berdampak pada kerugian negara.

Dampak dari kebijakan impor beras, lanjutnya, pasokan dari Jawa Tengah juga kian berkurang. Hal itu sudah dirasakan beberapa pedagang beras yang kesulitan memasarkan beras lokal ke luar provinsi.

Mengantisipasi masuknya beras ilegal ke Jawa Tengah, Bulog harus melakukan antisipasi dini. Aparat Bea dan Cukai serta kepolisian di pelabuhan juga bertindak tegas. "Petugas jangan mau disuap," tutur anggota Fraksi PAN ini.

Menurutnya, banyak pintu-pintu masuk beras ilegal lewat pelabuhan di Jateng. Dia mencontohkan di Semarang, Cilacap, Tegal, Pekalongan, dan Juwana. Adapun di darat daerah perbatasan Jateng-Jatim dan Jateng-Jabar juga perlu mendapat perhatian ekstra.(Jamal Al Ashari-60v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA