| Kamis, 15 Desember 2005 | NASIONAL |
Sedulur Sikep: Kami Ingin Jembatan dan Jalan Diperbaiki
MASIH berjabatan tangan erat dan tatapan teduh bersahabat, sekitar tiga puluh orang sedulur sikep berkumpul di Gubug Pringgono Sebo, di Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati, yang sekaligus berfungsi sebagai jagra satru (ruang tamu), pada Selasa (13/12) sore yang ditimpali gerimis tipis itu. Tanpa keplok dan birokratis yang berlebihan, mereka (pengikut Samin Surontika) grenengan tentang kegelisahan yang telah seminggu ini mereka rasakan. Persoalannya, bukan karena masalah sikap maneges atau keteguhan mereka dalam menjaga akar budayanya, melainkan justru pada seonggok batu kris yang menggunung di sudut desa. Namun ketika ditelusuri, akar kegundahan sedulur sikep ternyata bukan pada material pembuat jalan desa yang telah bopeng di sana-sini itu. ''Bantuan tersebut katanya merupakan bagian dari bantuan untuk Komunitas Adat Tertinggal,'' kata Karno, salah seorang dari mereka. Lebih lanjut dia mengatakan, komunitasnya yang konon sebagian enggan menyekolahkan anaknya ke sekolah, sebenarnya menerima apa yang diberikan pemerintah kepada mereka. Hanya, katanya, sejauh ini setiap bantuan tak pernah dibicarakan terlebih dahulu dengan warga sedulur sikep. Satu contoh, dahulu pernah ada bantuan Rp 74 juta dari pemerintah untuk pembangunan jembatan di wilayah tersebut. Entah mengapa, ludesnya dana tersebut ternyata tak diikuti dengan terbangunnya jembatan. Bahkan, Karno yang sempat dicatut namanya sebagai pemegang rekening uang bantuan Rp 40 juta juga sempat kelabakan melihat dana sebesar itu tiba-tiba bisa dicairkan oleh sejumlah pihak yang tak diketahui juntrungnya. Juga, katanya, ketika ada kabar untuk peningkatan pembangunan rumah warga sikep, alat pertanian, dan peningkatan jatah hidup, juga tak semua kelompok tersebut menikmatinya. Dari 126 kepala keluarga saat itu (tahun 2004), hanya 26 kepala keluarga yang menerimanya. ''Kami hanya ingin sedulur sikep diajak berunding mengenai hal itu,'' tandasnya. Tolak Bantuan Sementara itu, salah seorang yang dituakan dalam komunitas sedulur sikep, yang kini berjumlah 706 jiwa dengan 180 kepala keluarga, Mbah Tarno (81), mengemukakan, dahulu pernah disodori bantuan berupa uang tunai Rp 70 jutaan. Namun sesepuh komunitas Samin tersebut menolaknya. ''Saya hanya ingin jembatan dan jalan di desa kami diperbaiki, soalnya kedua sarana tersebut sudah rusak parah,'' ujarnya. Herannya, kata dia, orang yang mengulurkan bantuan tersebut justru mengatakan bahwa hal itu bukan bidangnya. Maka, dengan enteng Mbah Tarno pun mengatakan, jika hal itu tidak dapat dilakukan, tak dapat dibantu pun tak masalah. Satu hal yang menurutnya sangat disayangkannya, yakni semua bantuan tersebut sering tak melibatkan pengikut Samin di wilayah itu. Juga, katanya, ketika mulai Senin (12/12) lalu sekitar lima rit batu kris ditumpuk di ujung jalan desa. Sejumlah sedulur sikep mengatakan kepadanya, material tersebut akan digunakan untuk perbaikan jalan, dari perempatan Dukuh Bombong menuju jembatan Sungai Juwana yang melintasi desanya. ''Tapi itu juga tak jelas, bantuan dari siapa untuk siapa. Kami tak pernah diajak bicara soal itu,'' akunya. Sebenarnya, kata dia, warga sedulur sikep memang tak bermaksud mempersulit semua bantuan yang diberikan kepada mereka. Hanya pihaknya meminta semua warga sikep juga di-uwongke. Lagi pula, perlu pula dipertegas pemberian tersebut ditujukan kepada warga sikep atau penduduk desa secara keseluruhan. (Anton Wahyu Hartono-29t) | ||||